< >

Pandangan 'Salah Kaprah' Persulit Upaya Pelestarian Satwa

Selasa, 23 Januari 2007 19:39
Kapanlagi.com - Upaya untuk menyelamatkan spesies satwa yang dinyatakan terancam punah hingga saat ini sebagian besar berdasarkan pada teori konvensional yang memiliki pandangan yang 'salah kaprah', yaitu apabila satu spesies di satu wilayah statusnya terancam punah, maka spesies hewan lain yang ada di wilayah itu juga terancam punah, demikian hal itu dikatakan oleh para ilmuwan di Imperial College London.

Dalam makalah yang mempublikasikan hasil penelitian tersebut yang dimuat pada jurnal khusus lingkungan 'Nature' para ilmuwan mengatakan, keliru apabila memakai faktor kondisi satu spesies satwa di satu wilayah tertentu untuk dijadikan sebagai indikator bagi spesies lainnya sehingga wilayah tersebut dapat dikatakan sebagai 'wilayah rawan'.

"Ada kemungkinan besar bahwa upaya pelestarian satwa saat ini mengalami kekeliruan," kata Ian Owen salah satu peneliti yang juga penulis makalah tersebut kepada kantor berita Reuters. "Kita harus meluruskan kekeliruan pandangan seperti itu," katanya lagi

Para ilmuwan menilai, spesies terancam kepunahan dalam satu wilayah 100 km persegi untuk membuat peta kondisi yang berkaitan dengan populasi hewan mamalia, unggas dan amphibi yang ada dimuka bumi.

Dalam kenyataan kita sering mendapatkan gambaran yang berbeda dengan apa yang digariskan oleh teori konvensional yang mengambil patokan kondisi satu spesies sebagai faktor utama indikator spesies binatang lainnya.

"Secara garis besar dari semua penelitian yang kami lakukan bahwa strategi tersebut (yang berpatokan pada satu spesies) tidak akan membawa kepada solusi pelestarian yang efektif," demikian para ilmuwan melaporkan.

"Sampai kita datang sendiri melakukan penelitian ke satu tempat kita tak dapat mengambil kesimpulan mengenai kondisi satu spesies untuk spesies-spesies lainnya, karena teori konvensional menyebutkan apabila satu spesies hewan dalam kondisi langka atau terancam punah di satu wilayah maka semua satwa lainnya pun demikian," kata Owens

"Penting untuk tidak membuat kesimpulan atau berasumsi dan kemudian menetapkan terdapat sejumlah 'wilayah rawan satwa' di muka bumi ini dimana semua hewan di wilayah tersebut diasumsikan terancam punah"

"Gambaran tersebut menjadi lebih kompleks atau rumit apabila kita melihat lebih cermat terhadap satwa mamalia , unggas dan amphibi karena sesungguhnya tiap kelompok atau jenis hewan memiliki ancaman yang berbeda di wilayah yang satu dengan lainnya," paparnya.

Pada satwa unggas mereka menjadi berisiko terancam punah karena tempat tinggal mereka (habitat) dirusak oleh manusia pada umumnya. Sementara mamalia seperti harimau umumnya lebih menghadapi ancaman kepunahan yang datang dari para pemburu liar. Sedangkan satwa amphibi terancam punah karena muncul satwa lain yang datang dari wilayah luar," katanya lagi

"Hal yang positif dari pendataan yang keliru selama ini adalah kita sekarang mampu mengembangkan system yang dapat memungkinkan kita untuk lebih teliti dan cermat serta efisien dalam melakukan strategi tata laksana pelestarian di masa mendatang," kata Owens menekankan.

Owens mendesak agar semua negara tidak menjadikan teori pelestarian alam konvensional tersebut sebegai alasan untuk menunda upaya pelestarian alam dan lingkungan sampai mereka mendapatkan data yang lebih rinci dan jelas

"Harapan saya adalah semua pihak tidak mengambil sikap demikian (menunda upaya pelestarian alam dan lingkungan) tetapi terus melanjutkan melakukan upaya pelestarian tanpa menunda-nunda lagi dan pesan yang kami (para ilmuwan) ingin sampaikan adalah tetap lanjutkan apa yang telah dilakukan namun terus disertai perbaikan," kata Owens. (*/bun)