< >

Pemberdayaan Perempuan Dapat Sejahterakan Anak

Selasa, 23 Januari 2007 20:17
Kapanlagi.com - UNICEF sebagai lembaga donor PBB untuk anak, mengidentifikasi tiga hal penting untuk yang perlu dilaksanakan untuk memperbaiki kesetaraan kaum perempuan di Indonesia.

Ketiga hal tersebut yaitu akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pengatasan akar masalah eksploitasi seksual, dan perbaikan layanan kesehatan bagi perempuan.

"Menghapus diskriminasi gender dan memberdayakan perempuan akan memiliki pengaruh yang sangat besar dan positif bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak," demikian laporan tahunan UNICEF, Laporan Situasi Anak Dunia 2007, yang diluncurkan di Jakarta, Selasa (23/1), oleh Prof. Meutia Hatta Swasono, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

Kesetaraan gender memberikan 'keuntungan ganda' yang membawa manfaat bagi perempuan dan anak, serta sangat penting bagi kesehatan dan perkembangan keluarga, masyarakat dan bangsa. Jika perempuan berdaya untuk hidup seutuhnya dan produktif, maka anak dan keluarga akan sejahtera.

Menurut laporan UNICEF, pengaruh perempuan dalam pembuatan keputusan-keputusan merupakan kunci yang akan memperbaiki kehidupan perempuan dan berakibat positif pada kesejahteraan dan perkembangan anak.

Di Indonesia, UNICEF mengidentifikasi tiga hal penting yang memerlukan upaya lebih lanjut dan mendesak guna memperbaiki kesetaraan kaum perempuan yaitu akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memerangi akar penyebab eksploitasi seksual, serta perbaikan layanan kesehatan bagi perempuan hamil.

"Tindakan-tindakan di bidang ini akan mendatangkan manfaat yang praktis dan langsung bisa dirasakan oleh kaum perempuan dan masyarakat," kata Dr. Gianfranco Rotigliano, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia.

Laporan ini juga mencatat secara global bahwa meskipun status perempuan sudah mengalami kemajuan selama beberapa dasawarsa terakhir, kehidupan jutaan anak perempuan dan perempuan dewasa dibayangi oleh diskriminasi, ketidakberdayaan dan kemiskinan.

Anak perempuan dan perempuan yang terkena HIV/AIDS menanggung lebih banyak beban daripada laki-laki, dan perempuan sering berpenghasilan lebih sedikit daripada laki-laki meskipun pekerjaan mereka sejajar.

Jutaan perempuan di seluruh dunia menjadi sasaran kekerasan fisik dan seksual, dan sedikit peluangnya untuk mendapatkan keadilan.

Sebagai akibat diskriminasi, anak perempuan berpeluang lebih kecil untuk bersekolah, bisa dikatakan satu dari lima anak perempuan yang bersekolah di sekolah dasar di negara berkembang tidak menyelesaikan pendidikannya.

Tingkat pendidikan diantara kaum perempuan, menurut laporan ini, berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup dan perkembangan anak yang lebih baik.

"Indonesia telah membuat kemajuan yang baik dalam hal kesetaraan gender di tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP). Namun demikian, semakin tinggi jenjang pendidikannya, semakin terbatas akses anak-anak," ujar Dr.Rotigliano.

Beberapa kendala yang menghambat tercapainya kesetaraan gender di bidang pendidikan adalah belum memadainya program-program yang secara langsung ditujukan untuk mengatasi masalah akses dan partisipasi anak-anak yang kurang beruntung, khususnya anak-anak perempuan yang miskin dan terpinggirkan; pernikahan dini; buku teks yang bias gender; standar ganda terhadap perempuan (gender stereotyping); serta data menurut jenis kelamin di tingkat nasional dan daerah yang kurang handal.

Kemiskinan, kurangnya peluang ekonomi dan pendidikan, serta status perempuan yang masih dianggap rendah membuat para perempuan rawan terhadap eksploitasi seksual dan perdagangan orang, demikian Dr. Rotigliano mengingatkan.

"Persoalannya kembali lagi pada akses ke pendidikan. Jika kita bisa menjamin bahwa anak-anak, khususnya anak perempuan bersekolah, di kelak kemudian hari mereka akan lebih mampu menghidupi diri sendiri dan tidak menjadi rawan terhadap para pelaku perdagangan orang dan eksploitasi," ujar Dr. Rotigliano.

Keuntungan yang didapat dari kesetaraan gender tidak hanya dirasakan langsung oleh anak. Laporan Situasi Anak Dunia menunjukkan bagaimana kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 'Tujuan Pembangunan Milenium yang ketiga' akan mendukung tercapainya tujuan-tujuan lainnya, dari pengentasan kemiskinan dan kelaparan hingga ke penyelamatan hidup anak, perbaikan kesehatan ibu, jaminan bagi berlangsungnya pendidkan untuk semua, pemberantasan HIV/AIDS, malaria dan penyakit-penyakit lainnya, serta terjaminnya lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Di Indonesia, sekitar 20.000 perempuan meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi kehamilan. Angka Kematian Ibu sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup masih merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN, dan penurunan angka kematian ini masih menjadi prioritas tinggi dalam isu pembangunan.

Sebagian besar kasus kematian ibu sebenarnya bisa dicegah dengan peningkatan akses ke layanan kesehatan reproduktif yang bermutu serta penggunaan tenaga persalinan yang trampil.

Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium dalam hal pengurangan Angka Kematian Ibu sebanyak 75%, Indonesia harus segera mengambil tindakan-tindakan dan membuat berbagai upaya, baik di tingkat nasional maupun daerah.

"Upaya penurunan Angka Kematian Ibu akan menunjukkan komitmen terhadap perbaikan kesetaraan bagi kaum perempuan," kata Dr. Rotigliano. (*/bun)