Enam Juta Penduduk Indonesia Menderita 'Congek'

Kapanlagi.com - Enam juta orang atau tiga persen penduduk Indonesia, diperkirakan menderita radang telinga tengah atau congek/kopok.

"Penyakit itu kalau dibiarkan sampai kronik akan menyebabkan tuli," ujar guru besar THT (telinga, hidung, tenggorokan) Prof dr H Sri Harmadji Sp.THT-KL (K) di Surabaya, Selasa (23/1).

Ahli THT yang akan dikukuhkan pada 27 Januari itu menjelaskan, angka enam juta tersebut merupakan hasil survei Departemen Kesehatan pada tujuh propinsi.

"WHO sendiri menyebut 4,6% penduduk Indonesia mengalami tuli sedang dan berat, sedangkan 3,6% menderita radang telinga tengah kronik," tegasnya.

Menurut dia, masyarakat cenderung mengabaikan congek sebagai penyakit biasa atau sekedar sawan, sehingga menjadi penyebab terbesar dari tuli.

"Penyebab masyarakat mengabaikan congek antara lain radang telinga tengah tidak memberikan rasa sakit, takut operasi, tak mempunyai biaya, dan belum tersedia alat bedah mikro telinga," ungkapnya.

Padahal, katanya, penderita tuli akan menurunkan kualitas SDM di Indonesia. "Bisa juga, ketulian itu disebabkan penanganan dokter yang tidak tepat untuk radang telinga tengah," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan memperbanyak penyuluhan melalui media massa, seminar/simposium untuk dokter, dan jaringan pengaman sosial (JPS) untuk masyarakat miskin.

"Kami juga akan mengusulkan kepada pemerintah pusat atau daerah agar melengkapi rumah sakit dengan alat bedah mikro telinga, agar SDM setempat berkualitas prima," tegasnya.

Prof Sri Harmadji akan dikukuhkan bersama Prof dr Sri Herawati Juniati Sp.THT (K) (THT) dan Prof DR dr Kuntaman MS Sp.MK (mikrobiologi) pada 27 Januari.

"Ketiganya merupakan guru besar pertama di era Unair sebagai BHMN," ujar staf Humas Unair Surabaya, Bambang ES. (*/bun)

©2003-2007 KapanLagi.com