Buku berjudul "8 Maret" itu, yang ditulis oleh aktivis K. Arumugam itu, mendokumentasikan kerusuhan berdarah yang terjadi pada tanggal itu pada 2001 di Kuala Lumpur, yang mengejutkan Malaysia, dimana bentrokan antar etnis sangat jarang terjadi.
Arumugam, salah seorang anggota organisasi HAM Saaram, mengatakan bahwa buku itu dicekal bulan lalu bersama-sama dengan 17 judul buku yang lain, termasuk satu mengenai Islam dan Barat setelah serangan teroris 11 September, 2001.
Suaram mengatakan bahwa pemerintah telah gagal menghukum satu orang pun pelaku dari kerusuhan 8 Maret, yang melibatkan penempatan ratusan polisi, dan menuduh pencekalan itu sebagai menghalangi warga Malaysia memperoleh informasi vital.
"Pencekalan dari buku itu mengekalkan budaya pengampunan dan mengakibatkan ketidakadilan yang lebih jauh bagi korban," katanya dalam pernyataan.
Hak bagi warga Malaysia untuk "memahami dan mempelajari peristiwa penting dan signifikan dalam sejarah negara ini yang juga telah dilanggar," katanya, dan menyeru agar pencekalan itu dicabut.
Kerusuhan pada 2001 adalah yang paling serius, sejak kerusuhan etnis Melayu-China pada 1969 yang mengakibatkan tewasnya ratusan orang dan mengakibatkan negara itu mengalami trauma.
Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi bulan lalu mengakui bahwa hubungan antar-etnis di Malaysia "rapuh" dan masalah itu harus segera diatasi secara terbuka.
Penduduk Malaysia berjumlah sekitar 26 juta orang termasuk 60 % etnis Melayu, 26 persen etnis China, dan delapan pesen etnis India. (*/rsd)