"Biasanya bulan Januari sudah memuncak kasusnya, tapi sekarang baru mulai muncul. Untuk antisipasi rumah sakit-rumah sakit sudah disiapkan," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, di Jakarta, Rabu (24/1), terkait peningkatan jumlah kasus DBD di sejumlah daerah endemis dalam beberapa hari terakhir.
Usai mengukuhkan pengurus baru Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI), ia mengatakan upaya untuk menanggulangi penularan penyakit DBD, yang setiap tahun selalu muncul dan merenggut korban jiwa, tidak bisa dilakukan dengan mudah.
"Kita belum bisa bebas dari DBD selama kondisi lingkungan belum baik, masih kotor dan banyak genangan air," ujarnya serta menambahkan kondisi yang demikian memungkinkan nyamuk penyebar penyakit berkembang biak.
Oleh karena itu dia meminta semua pihak, utamanya masyarakat, untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan penularan DBD dengan memelihara kebersihan pribadi dan lingkungan di sekitarnya.
"Dan ikut melakukan PSN dengan melakukan 3M," katanya.
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan salah satu upaya pencegahan DBD yang dilakukan dengan menguras bak mandi/penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan sebagainya.
Selain melalui gerakan 3M, pemberantasan nyamuk Aedes aegepty selama ini juga dilakukan melalui upaya pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik dan pengendalian kimiawi melalui pengasapan/fogging dan pembubuhan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air.
Kegiatan itu biasanya lebih digiatkan kembali pada musim penghujan sebab curah hujan yang tinggi pada musim hujan dan sanitasi yang buruk dapat memperbanyak tempat perindukan nyamuk Aedes aegepty, nyamuk yang menularkan virus dengue ke tubuh manusia.
Namun demikian hingga saat ini upaya tersebut belum menampakkan hasil optimal karena kesadaran masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk di sekitar tempat tinggal mereka umumnya masih sangat rendah sehingga penyakit itu terus muncul dan menelan korban jiwa setiap tahun.
Data dari Sub Direktorat Arbovirosis Departemen Kesehatan menunjukkan jumlah kasus DBD di Tanah Air cenderung meningkat setiap tahun.
Bila tahun 2002 hanya terdapat 40.377 kasus DBD maka tahun 2003, 2004 dan 2005 jumlahnya masing-masing menjadi 52.500, 79.462 dan 80.837 kasus.
Pasien yang meninggal akibat penyakit tersebut juga terus meningkat, angka kematian akibat DBD tahun 2002, 2003, 2004 dan 2005 masing-masing mencapai 533, 813, 957 dan 1.099. (*/bun)