"Beberapa waktu lalu, CHF Internasional berupaya menyerahkan surat kepemilikan, namun kami menolaknya karena kualitas bangunannya rendah," kata seorang warga Pulot, ANTARA , M Yuan di Banda Aceh, Kamis.
Ia menyebutkan, penolakan itu bukan berarti masyarakat tidak menghargai pemberian pihak donor, namun rumah yang dibangun kontraktor lokal tersebut berkualitas rendah dan dikhawatirkan tidak tahan gempa.
"Kami berterima kasih atas bantuan CHF Internasional yang telah membantu kami, tapi kami berharap kontraktor tidak asal jadi dalam membangun rumah itu," tambahnya.
M Yuan, mencontohkan, pintu dan jendela bangunan rumah bantuan tersebut sangat tidak layak untuk sebuah bangunan, termasuk kontruksi betonnya.
Padahal, masyarakat korban tsunami sudah mengetahui dana pembangunan itu berkisar Rp69 juta/unit.
"Kami menilai rumah yang dibangun rekanan itu seharga Rp50 juta/unit," tambahnya.
Warga calon penerima rumah bantuan CHF Internasional lainnya, Bachtiar, juga menyatakan pihaknya belum bersedia menerima bantuan tersebut karena kualitas bangunannya dibawah standar yang ditetapkan pihak donor.
Ia menyebutkan, CHF membangun sebanyak 56 rumah permanen tipe-36 untuk korban tsunami Desa Pulot. (*/rsd)