74 Orang Warga Bogor Positif HIV/AIDS
Kapanlagi.com - Penderita positif HIV di Kabupaten Bogor bertambah lagi sebanyak tiga orang, pada periode Desember 2006 hingga Januari 2007. Dengan pertambahan tersebut, sampai saat ini penderita positif HIV di Kabupaeten Bogor seluruhnya sebanyak 70 orang dan penderita positif AIDS sebanyak empat orang. "Tiga orang penderita positif HIV tersebut ditemukan melalui serologi survey di tiga klinik IMS di Kecamatan Cileungsi, Parung, dan Kemang, yang melakukan survey di daerah berisiko tinggi," kata Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Eulis Wulantari di Cibinong, Senin. Daerah berisiko tinggi, menurut dia, antara lain, lokalisasi pekerja seks komersial (PSK), pemakai narkoba, pekerja malam, dan pelanggan PSK. "Kesulitan dalam serologi survey, para penderita HIV/AIDS tidak diketahui siapa individu maupun identitasnya, karena berdasarkan konvensi Jenewa, harus dirahasiakan, untuk melindungi mereka maupun masyarakat umum," katanya. Dalam serologi survey, sampel daerah yang diambil dalam sutau daerah atau komunitas tanpa diberikan identitas, kemudian dilakukan pengacakan dan diteliti di laboratorium. Hasilnya, jika ada yang positif HIV tidak diketahui, individu dan jati dirinya. Padahal, masih ada orang di daerah berisiko tinggi yang belum bersedia dilakukan pemeriksaan darah. Menurut dia, klinik IMS bekerja melakukan penyuluhan dan memotivasi komunitas masyarakat di daerah berisiko tinggi untuk bersedia datang ke klinik dan dilakukan pemeriksaan, termasuk periksa darah. Setelah dilakukan pemeriksaan darah dan ditemukan ada yang positif HIV, maka komunitas tersebut dimotivasi untuk mau berobat secara rutin. "Seseorang yang telah positif HIV/AIDS, sebenarnya tidak bisa kembali sehat sampai 100 %. Pengobatan rutin yang dilakukan penderita HIV untuk memperpanjang usia hidup dan mempertahankan HIV tidak sampai menjadi AIDS. Sedangkan, pengobatan rutin bagi penderita AIDS untuk memperpanjang masa hidupnya," katanya. Sampai saat ini, penderita penyakit HIV/AIDS, menurut dia, masih menjadi rahasia. Karena, budaya masyarakat di Indonesia belum bisa menerima keberadaan penderita HIV/AIDS di tengah masyarakat. Penderita HIV/AIDS masih dianggap sampah masyarakat dan dikucilkan. Padahal, mereka juga masyarakat yang memiliki keluarga dan akses dengan masyarakat lainnya. Menurut dia, penderita HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Artinya, setiap satu penderita HIV yang ditemukan, di bawahnya ada sekitar 10.000 orang terpapar. Demikiannya juga, setiap satu orang penderita AIDS ditemukan, di bawahnya ada sekitar 100.000 orang terpapar. "Karena, penderita HIV/AIDS memiliki keluarga, pergaulan, dan akses dengan masyarakat luas. Si penderita berhubungan dengan istrinya, maka istrinya bisa tertular HIV. Istrinya kemudian melahirkan, maka anaknya yang masih bayi sudah tertular HIV," katanya. Penularan HIV/AIDS, selain dari kontak langsung dengan penderita, menurut dia, antara lain bisa melalui perantaraan jarum suntik yang tidak steril. Sedangkan, melalui transfusi daerah kemungkinannya kecil, karena darah disimpan di bank darah diteliti dulu dan pada saat akan ditransfuksikan, diteliti kembali. "Darah yang tidak streril dan mengandung bibit penyakit, tidak ditransfusikan," demikian Eulis Wulantari. (*/rsd) |