"Sejauh ini kami telah mengeskpor berbagai komoditas dan produk antara lain kondom, teh hijau, teh hitam, arak, pucuk daun tebu ke berbagai negara," kata Son kepada wartawan dalam acara berkaitan dengan rencana RNI tahun 2007.
Hadir dalam acara yang dipimpin Dirut RNI Rama Prihandana antara lain Direktur Teknologi TG Marpaung dan Direktur SDM dan Treasury Bambang Sumardiko.
Lebih jauh Son mengatakan PT Mitra Rajawali Banjaran, anak perusahaan RNI yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat, memiliki kapasitas terpasang untuk memproduksi berbagai jenis kondom sebesar 800,000 gross, 50% hasil produksinya akan diekspor antara lain ke Afrika, Sri Lanka, Papua Nugini, Malaysia dan Rusia.
Menurut dia, penjualan kondom ditargetkan naik jadi senilai Rp 16 miliar tahun ini dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp7 miliar.
Ekspor obat-obatan juga sedang dirintis ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
"Tahun ini kami akan ekspor arak ke Belanda sebanyak 240,000 liter, tiga kali lebih besar daripada ekspor tahun lalu," ujar Son.
Namun, ia mengatakan penjualan produk dan komoditas tersebut masih menyumbang sekitar delapan persen dari total penjualan Rp2,75 triliun tahun lalu. Diproyeksikan, penjualan berbagai produk sampingan tersebut meningkat tahun 2007 sejalan dengan kebijakan RNI menuju hilir.
BUMN ini mentargetkan penjualan naik 2.79 persen menjadi Rp2,83 trilun dari Rp2,75 triliun tahun 2006. Penjualan dari sektor agro baik industri tebu maupun industri perkebunan lainnya ditargetkan meningkat 11,42 persen manjadi Rp1,26 trilun dari Rp1,13 triliun tahun lalu, sedangkan penjualan dari sektor industri non agro diperkirakan turun 3,23 % menjadi Rp1,57 triliun tahun 2007 dari Rp1,62 triliun tahun sebelumnya.
RNI Group memiliki 15 anak perusahaan dan dua cucu perusahaan yang bergerak di tiga bidang usaha yakni agroindustri, farmasi dan alat kesehatan, dan perdagangan dan distribusi.
Di bidang agroindustri, RNI memilki 11 pabrik gula di Pulau Jawa dan Sulawesi Utara, perkebunan sawit dan perkebunan teh serta beberapa pabrik pengolahan produk hulu dan samping berbasis tebu. Selain itu ada juga pabrik pakan ternak, particle board, kanvas rem, alkohol dan pupuk campuran.
Di bidang farmasi dan alat kesehatan, BUMN ini memiliki pabrik obat, alat suntik, kondom, peralatan sinar X.
Sementara itu Rama Prihandana mengatakan bahwa RNI belum bisa menjadi exporter gula karena produknya masih untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
"Kebutuhan gula nasional mencapai sekitar 3,6 juta ton tahun ini sementara RNI baru bisa memproduksi 325.218 ton dan produk perusahaan-perusahaan perkebunan lain pun belum cukup untuk kebutuhan domestik," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia belum bisa menjadi eksporter seperti Brazil dan Thailand. (*/rsd)