Produksi Tanaman Obat Belum Mampu Penuhi Pasar
Kapanlagi.com - Produksi tanaman obat di Indonesia hingga kini kini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar akibat rendahnya pembudidayaan tanaman obat di Indonesia, padahal permintaannya cukup besar. "Budi daya tanaman obat di Indonesia belum dilakukan secara profesional, namun hanya dilakukan secara sampingan, sehingga produksinya tidak sesuai harapan," kata Hartono (49) produsen dan eksportir tanaman obat asal Salatiga, Rabu Sebenarnya, kata dia, kebutuhan tanaman obat yang biasa digunakan untuk bahan baku farmasi, jamu, kosmetika, dan bumbu masak di pasar dunia maupun lokal cukup besar, sehingga terbuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkannya. "Para petani harus bisa menangkap peluang itu untuk meraih devisa, apalagi negara kita terkenal sebagai gudang tanaman obat, sehingga peluang itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya, " katanya. Ia mengatakan, kebutuhan pasar tanaman obat di dalam negeri dan luar negeri sendiri mencapai 250 ribu ton per tahun, padahal produksi nasional hanya 55 ribu ton per tahun, sehingga masih ada peluang untuk mengembangkan. Sedikitnya kini ada 300 jenis tanaman obat di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku jamu, farmasi, kosmetika, dan bumbu masak, namun potensi itu belum dimanfaatkan secara maksimal dengan cara pembudidayaan besar-besaran yang dilakukan secara profesional, kata Gunawan Witjaksono (52) pengusaha jamu asal Semarang. Menurut dia, Indonesia kini perlu menggalakkan budi daya tanaman obat untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional dan lokal yang cukup tinggi. Ia mengatakan, dengan pembudidayaan diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar domestik dan dunia yang cukup besar. "Budidaya tanaman obat di Indonesia masih dilakukan secara tradisional, baik menyangkut pemupukan dan penanaman, sehingga hasilnya belum bisa optimal," katanya. (*/rsd) |