"Dari jumlah itu, lima kasus dilakukan di Palu sedangkan 12 kasus di Poso," kata Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam di Jakarta, Kamis.
Dalam penyisiran di Poso tadi pagi, polisi menangkap Basri, Ardin dan Haryanto. Ardin sempat melawan petugas sehingga terpaksa dilumpuhkan dengan tiga tembakan.
Anton mengatakan, kasus yang diduga melibatkan Basri di Palu adalah penembakan pendeta Susianti tahun 2004, perampokan toko Emas Monginsidi tahun 2006, penyerangan Desa Maranata tahun 2004, perampokan toko Mas Pasar Tua tahun 2004 dan penembakan Gereja Anugrah tahun 2004.
Sedangkan 12 kasus di Poso adalah mutilasi tiga siswi tahun 2005; mutilasi kepala Desa Pinedapa tahun 2004; perampokan uang pemda Poso tahun 2005; penembakan dua siswi SMA (Ivon dan Siti) dan peledakan Bom gereja Eklesia (tiga 3 kali) tahun 2006.
Selain itu, peledakan Bom di GOR poso tahun 2006; peledakan Bom Thermos di Tangkura tahun 2006; peledakan bom senter di Kawua tahun 2006; penganiayaan hingga tewas Briptu Deddy Hendra tahun 2007; pembakaran rumah anggota Polri didekat PDAM tahun 2006; penembakan Kapolres Poso tahun 2006, dan pembunuhan Wayan Sumaryasa tahun 2001.
Tentang keterlibatan Ardin, Anton Bachrul Alam mengatakan, tersangka ini diduga terlibat penembakan pendeta Susianta, pembakaran rumah anggota intel, penembakan di gereja Anugrah Palu dan peledakan bom Tentena 28 Mei 2005.
Sedangkan keterlibatan Haryanto masih dalam penyelidikan polisi.
Dalam penangkapan ketiga DPO itu, polisi menyita barang bukti antara lain sepucuk revolver, 20 butir amunis dan dua senpi laras panjang rakitan. (*/lpk)