Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun di Medan, Selasa, mengatakan dengan PE sebesar tujuh persen maka akan terjadi penurunan harga ekspor komoditi itu dari 525 US$ per ton setelah dipotong ongkos kapal menjadi hanya 488,75 US$ per ton.
Dengan harga ekspor sebesar 488,75 US$ per ton itu, maka harga CPO lokal juga tinggal Rp238.000 per ton dengan perhitungan setelah dikalikan nilai tukar dolar AS ke Rupiah sebesar Rp9.100.
Harga jual CPO yang tertekan di dalam negeri itu juga akan berdampak langsung pada harga jual TBS petani.
"Dengan PE CPO sebesar tujuh %, maka harga TBS akan turun sekitar Rp50 %. Padahal petani baru saja menikmati mahalnya harga jual TBS itu mencapai Rp1.000 per kg," katanya.
Harga jaul TBS Rp1.000 per kg saat ini membuat petani sangat senang karena keuntungan mereka lebih besar, dimana biaya produksi berkisar Rp450 per kg TBS untuk pemilik kebun di atas 10 hektare dan Rp700 per kilogram TBS untuk petani dengan luas lahan yang sedikit sekitar dua hektare.
"Pemerintah diminta mempertimbangkan kembali rencana kenaikan PE CPO itu. Gapki sendiri sudah membuat surat pernyataan keberatan kepada Wapres tanggal 2 Februari," katanya.
Derom menilai pemerintah boleh saja mendukung pertumbuhan industri hilir CPO, tapi diharapkan kebijakan untuk dukungan itu tidak memberatkan atau mengorbankan pihak lain termasuk petani yang harus dilindungi.
Apalagi, katanya, pemerintah sebelumnya sudah mewanti-wanti industri olahan CPO yang akan menaikkan produksinya untuk mengantispasi lonjakan kebutuhan dengan memperluas areal kebunnya.
Industri olahan CPO di Indonesia sendiri sebagian besar juga merupakan produsen dan eksportir CPO sehingga tidak tertutup kemungkinan perusahaan industri hilir itu juga melakukan penjualan CPO nya ketika harga jual minyak sawit mentah itu lagi bagus di pasar internasional. (*/rsd)