< >

Suplai Gas Untuk Industri Masih Defisit

Selasa, 06 Februari 2007 23:12
Kapanlagi.com - Sektor industri dipastikan masih akan mengalami kekurangan (defisit) pasokan gas hingga beberapa tahun ke depan. Ini dikarenakan, hingga saat ini belum ada sumber-sumber gas baru yang sudah melakukan produksi.

"Selama Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral belum melakukan ekstensifikasi sumur-sumur gas baru, maka industri akan tetap defisit. Produksi gas yang ada saat ini sebagian besar untuk ekspor. Apalagi harga gas untuk ekspor jauh lebih tinggi dibanding jika dijual untuk dalam negeri,"kata Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris di Jakarta.

Menurut Fahmi, pengembangan sektor industri ke depan sangat dilematis bila dilihat dari ketersediaan sumber energi, khususnya gas, baik untuk bahan baku maupun bahan bakar. Sementara produsen gas di dalam negeri yang sebagian besar perusahaan asing sudah terikat kontrak ekspor ke Jepang, Korea Selatan, dan negara lainnya.

"Kalau sumur-sumur gas baru tidak dikembangkan, maka pasokan gas untuk industri sulit ditingkatkan. Saya berharap Departemen ESDM melakukan upaya keras untuk mengoptimalisasi sumur-sumur gas baru," ujar Fahmi.

Lebih jauh Fahmi menuturkan, defisit pasokan gas dalam jangka pendek (2005-2010), akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan industri yang sudah ada. Selain itu, masalah pasokan gas ini juga akan mempengaruhi masuknya investasi baru. "Selama belum dikembangkan penemuan ladang dan sumur gas baru, maka kita akan mengalami defisit gas," ujar Fahmi.

Defisit pasokan gas tersebut, lanjutnya, akan terjadi pada semua industri yang menggunakan gas sebagai bahan bakar dan bahan baku. Khususnya industri yang terkonsentrasi di Jawa. Hingga saat ini sebagian besar industri di dalam negeri menggunakan gas sebagai bahan bakar dan yang menggunakan sebagai bahan baku seperti industri pupuk, petrokimia, dan baja.

"Itu memang tragis sekali, sementara kita mengundang investor masuk, begitu dia mau memulai, namun kekurangan gas. Itu (pasokan gas) salah satu infrastruktur yang dalam jangka panjang, sehingga masalah ketersediaannya bisa merepotkan pertumbuhan dan perkembangan investasi di Indonesia," kata Fahmi.

Berdasarkan Rencana Induk (Master Plan) Kebutuhan Gas Bumi untuk Sektor Industri yang diluncurkan Mei 2006, pada 2005 terjadi defisit pasokan gas sebesar 1.362,6 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Pada 2010 defisit pasokan gas domestik diperkirakan meningkat menjadi sebesar 1.601,9 mmscfd, dan pada 2015 akan terjadi defisit sebesar 5.281,1 mmscfd. "Oleh karena itu, solusinya adalah Departemen ESDM harus mengekspansifkan dan mengintensifkan pencarian sumur-sumur baru," ujarnya.

Sayangnya, lanjut Fahmi, belum terlihat upaya nyata dari Departemen ESDM untuk melakukan hal tersebut. (*/rsd)