"Ada kesepakatan kerjasama dalam arti mereka sebagai asosiasi punya banyak informasi mengenai keperluan pasar di Uni Eropa,"kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, di Jakarta, Rabu.
Coabisco beberapa waktu lalu mengunjungi pabrik coklat dan kebun kakao di Indonesia untuk memberi masukan mengenai perbaikan kualitas kakao Indonesia.
"Masukkannya mengenai bagaimana memperbaiki bibitnya, post harvest (pasca panen)-nya, penyortiran pada tahap pertama dan varietas bibit yang tahan hama penggerek batang,"jelas Mendag.
Selain itu, Coabisco juga akan membantu Indonesia agar mendapat perlakuan yang sama dengan Afrika (pembebasan BM coklat olahan).
"Karena intinya negara Afrika dan Asia itu sama, Afrika kan least developed country dan punya perjanjian khusus dengan UE, jadi kita juga harus cari jalan bagaimana kita bisa mendapat perlakuan yang sama,"ujarnya.
Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar ketiga di dunia namun harga yang didapatkan dari ekspor masih rendah karena kakao yang diekspor kebanyakan tidak terfermentasi. Meskipun demikian, Mendag menyatakan Indonesia akan tetap melayani berbagai macam jenis permintaan pasar.
"Yang penting tahap pertama memperbaiki bahan bakunya, tahap kedua mungkin kita akan mendorong (pengembangan industri kakao) dengan insentif,"ujar Mari.
Pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk mengembangan industri kakao dari hulu hingga ke hilir. Untuk itu, pemerintah juga mempertimbangkan untuk bergabung dalam asosiasi kakao internasional (ICCO) agar lebih mudah dalam meningkatkan kualitas produk dan nilai ekspornya. (*/rsd)