"Jakarta relatif lebih siap terhadap banjir. Kalau daerah segala sesuatunya serba terbatas," katanya di Jakarta, Kamis (08/02).
Amal mancotohkan, banjir yang merendam sekitar enam desa di Kecamatan Batu Jaya, Karawang, tidak disertai fasilitas toilet umum yang memadai, padahal sebagian besar rumah dan toilet warga tidak berfungsi karena terendam air.
Berdasarkan pantauannya, sejumlah warga membuang air besar di sepanjang aliran sungai dan genangan air.
Selain itu, katanya, kesulitan akses kendaraan ke sejumlah lokasi banjir di daerah juga manghambat suplai air bersih. Hal itu, katanya, akan memperburuk kondisi kesehatan karena masyarakat akan mengkonsumsi air kotor.
"Jadinya apa yang dibuang masyarakat akan dikonsumsi lagi," kata Amal menambahkan.
Kondisi semacam itu, katanya, akan menimbulkan berbagai jenis penyakit yang terkait dengan aktivitas pencernaan dan pernapasan, seperti diare serta infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
Berbeda dengan kondisi di daerah, ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang cukup memadahi memungkinkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki kesiapan yang lebih dalam menjaga kesehatan warga korban banjir.
Hal itu terlihat dari tersedianya sejumlah toilet umum dan suplai air bersih kepada warga.
Selain itu, pemerintah Ibukota juga telah memenuhi standar kebersihan, seperti mencampur tinja dan air seni para pengungsi dengan komposit serta zat kimia tertentu sebelum dibuang.
Meski secara umum sudah baik, Amal mengatkan pelayanan kesehatan di beberapa daerah di Ibukota masih berada di bawah standar, terutama untuk penampungan pengungsi dalam jumlah yang sedikit.
"Mungkin juga sarananya masih kurang," katanya.
Untuk itu, Amal menekankan agar pemerintah baik di Ibukota maupun daerah sekitarnya terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada warga korban banjir.
Pelayanan itu sebisa mungkin difokuskan pada penyediaan toilet umum, obat, dan air bersih yang layak konsumsi. (*/rit)