< >

Nikah, Wanita Tu Cya Menangis Tiga Hari Tiga Malam

Kamis, 08 Februari 2007 17:12
Kapanlagi.com - Para wanita suku minoritas, Tu Cya di daerah wisata Zhangjiajie, China, mempunyai tradisi budaya menangis selama tiga hari tiga malam saat memasuki pernikahan.

"Tradisi yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan kebiasaan itu kini justru menjadi satu daya tarik wisata di daerah tersebut," kata Yu Wen Hui, pimpinan Biro perjalalan Dong Fang Internasional Ltd, Guangzhou, di Zhangjiajie, China, Kamis (08/02).

Selain wanita yang menjadi penganten, tradisi menangis itu juga diikuti teman-teman dan sanak famili keluarganya yang wanita, sehingga pesta pernikahan diwarnai kesedihan yang mendalam.

"Jadi di sini (Zhangjiajie, red), pesta pernikahan bukan diwarnai suasana bersenang-senang, terapi kesedihan yang mendalam," ujarnya.

Berdasarkan tradisi suku minoritas itu, air mata yang dikucurkan sang penganten wanita dan teman-teman serta keluarganya adalah tanda kesedihan akan berpisah dengan orangtuanya.

Perpisahan yang ditangisi ini, sebagai bentuk cinta dan pengabdian mendalam kepada orangtua dan keluarga yang telah melahirkan membesarkan dan mendidik sang penganten wanita hingga memasuki masa pernikahnnya.

Semakin keras tangis dan makin banyak air mata yang mengucur menandakan semakin tinggi pengabdian dan cinta kepada orangtua serta keluarga, karena itu tangisan yang dilakukan sang penganten wanita dilakukan dengan penuh perasaan.

Ia mengatakan, tradisi menangis tersebut kini justru menarik dan dikemas sebagai bagian dari atraksi dunia pariwisata di Zhangjiajie dan semakin banyak menarik datangnya wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Bila ada pernikahan maka wisatawan akan datang untuk melihat tradisi menangis tersebut, dan menjadi pengalaman berharga selama berkunjung ke daerah Zhangjiajie.

Selain tradisi menangis, para wanita suku minoritas di daerah itu juga mempunyai seni menyanyi yang tinggi dan setiap kali kedatangan tamu dan wisatawan mereka melantuntkan lagu-lagu daerah yang merdu.

Tradisi ini telah dikemas menunjang dunia pariwisata di Zhangjiejie, dimana saat wisatawan datang ke objek wisata maka sejumlah gadis berpakaian khas suku minoritas langsung menyambutnya dengan lagu-lagu dibawakan dengan suara merdu melengking tinggi.

Selain itu, jika wisatawan memasuki restoran maka para gadis setempat juga menyambut dengan lagu-lagu mereka dan menemani acara maka dengan saling bertukar menyanyi dengan wisatawan.

Banyak wisatawan sangat terhibur dengan nyanyian para gadis Zhangjiajie, dan hal ini semakin memperkuat keunggulan dunia pariwisata daerah yang dikunjungi 800.000 wisatawan mancanegara tiap tahun itu. (*/rit)