Hal itu mereka lakukan menyusul ditemukannya bangkai ayam yang positif Avian Influenza (AI) di perumahan itu pada Senin (5/2) lalu.
Menurut Kepala Desa Klayan, Dadang Juanda, sejak ditemukannya bangkai ayam positif AI masyarakat menjadi ketakutan oleh ancaman virus flu burung yang bisa menular pada manusia. Setelah mendapat penjelasan dari Dinas Peternakan Cirebon akhirnya penduduk di RW 06 itu rela menyerahkan unggas untuk dimusnahkan.
"Hanya unggas di satu blok saja yang direncanakan didepopulasi, tetapi sejak penemuan bangkai unggas itu, masyarakat mulai memotong sendiri ayamnya dan mengkonsumsinya sementara sisanya hari ini ada 25 ekor unggas yang didepopulasi oleh Dinas Peternakan tanpa kompensasi," katanya.
Hal senada dikatakan Deni, Ketua RW06. Menurut dia sebenarnya ada lima bangkai ayam yang ditemukan terpisah selama beberapa hari, tetapi satu bangkai yang berada persis di sisi luar komplek ternyata positif flu burung.
Dengan penemuan bangkai ayam yangb positif flu burung itu masyarakat menjadi khawatir virusnya sudah menyebar dan lebih aman jika untuk sementera di sekitar itu tidak ada yang memelihara unggas.
"Unggas yang positif itu kebetulan unggas yang diliarkan dan tidak ada yang mengaku siapa pemiliknya," katanya.
Menurut Enjang, Petugas Teknis Peternakan Kecamatan Gunung Jati yang memimpin depopulasi, unggas yang didepopulasi setelah dipotong lalu dikuburkan dalam satu lubang dan dibakar, sementara kandang yang kosong juga ikut dibakar untuk mencegah penularan dari kotoran ayam yang mungkin saja sudah terinfeksi virus.
"Daerah ini sudah divaksinasi dan saat ini dalam pengawasan ketat termasuk dengan melakukan biosecurity secara rutin termasuk hari ini ada penyemprotan desinfektan pada lokasi bekas kandang ayam milik warga," katanya.
Ia mengungkapkan, sampai saat ini tidak lagi ada lagi laporan unggas yang mati mendadak atau penemuan bangkai unggas di sekitar perumahan itu sehingga kuat dugaan virus itu sudah tidak lagi mengancam daerah itu.
Sistim Kandang
Kabid Kesehatan Hewan Disnak Kab. Cirebon, Drh Didi Syamsulhadi, mengatakan, masyarakat di sekitar itu masih boleh memelihara unggas tetapi dengan sistem kandang dan dilakukan 'biosecurity' secara rutin. Tetapi kalau tidak mampu melakukan itu lebih baik tidak usah memelihara unggas karena bisa saja terinfeksi virus flu burung.
"Tetapi warga sadar untuk sementara mereka tidak memelihara unggas lebih dulu sebagai tindakan berjaga-jaga karena dekat dengan penemuan bangkai unggas yang positif flu burung," katanya.
Ia mengungkapkan, ada 10 kecamatan di Kabupaten Cirebon selama setahun terakhir yang sudah pernah ditemukan bangkai ayam positif flu burung yaitu Gunung Jati, Sumber, Dukupuntang, Plumbon, Ciwaringin, Gempol, Pebedilan, Waled, Talun dan Lemah Abang.
"Kesepuluh kecamatan itu menjadi prioritas pencegahan penyebaran Avian Influenza dengan vaksinasi unggas dan melakukan biosecurity secara rutin pada peternakan rakyat," katanya. (*/bun)








