Yongki mencontohkan, Alfamart yang memulai usahanya dengan hanya 50 "outlet" merupakan salah satu merek lokal yang kuat. "Sekarang dia punya lebih dari 1.500 `outlet`. Itu jadi `brand` nomor satu di Indonesia,"tambahnya.
Alfamart merupakan perusahaan ritel lokal yang dimiliki oleh orang Indonesia yang seluruh pegawainya juga orang lokal. "Carrefour bisa bertahan karena dia bisa beradaptasi. Di Korea, dia tidak bisa adaptasi jadi angkat kaki dari sana,"ujarnya.
Menurut Yongki, toko tradisional masih mendominasi ritel di Indonesia namun secara nilai, pasar modern yang lebih banyak meraup rupiah.
"Dari jumlah toko, 99 % kebanyakan toko tradisional, hanya 1 % yang modern, tapi pasar modern meraup 16 % rupiah (yang beredar di sektor ritel),"katanya.
Sementara itu, toko tradisional hanya tumbuh dua persen dari 2004 ke 2005 (1,745 juta toko menjadi 1,787 juta toko) sedangkan toko modern tumbuh 15% atau menjadi sekitar 1.000 toko.
Berdasarkan survei tahun lalu, konsumen Indonesia menilai belanja merupakan rekreasi dan tiga kota yang tingkat belanjanya paling tinggi adalah Jakarta, Bandung dan Medan. (*/rsd)