< >

Thailand dan Malaysia Sepakat Perpanjang Tembok Keamanan Perbatasan

Rabu, 14 Februari 2007 21:04
Kapanlagi.com - Thailand dan Malaysia sepakat untuk menambah panjang tembok keamanan perbatasan kedua negara 10 kilometer lagi, demikian media resmi di sini melaporkan Rabu (14/02).

Kesepakatan itu dicapai Selasa pada pertemuan di Songkhla, Thailand, antara Jenderal Viroj Buajaroon, yang memimpin operasi-operasi militer Thailand di selatan, di mana kerusuhan separatis meningkat, dan Letjen Zulkifli bin Mohammad Zin, komandan regional Malaysia, kata kantor berita resmi Thailand, TNA.

Perpanjangan tembok akan menjadi lebih dari empat kali lipat dari tiga kilometer yang sudah ada sekarang di dekat Sadao, kota perbatasan Thailand yang letaknya 750 kilometer selatan Bangkok dan berhadapan dengan negara bagian Kedah, Malaysia.

Kedua pihak akan bertemu lagi Kamis untuk membahas rincian proyek.

Kedua pemimpin militer itu juga setuju untuk meningkatkan patroli militer di sepanjang perbatasan kedua negara mereka sepanjang 647 kilometer, serta pertukaran informasi berkaitan dengan keamanan.

Perdana Menteri Thailand, Surayud Chulanont Ahad mengusulkan perpanjangan tembok perbatasan yang ada dengan tambahan 27 kilometer, untuk meningkatkan keamanan di pedalaman selatan serta mencegah arus pekerja gelap yang melintas di perbatasan bersama.

Tembok juga dimaksudkan untuk mencegah kaum separatis Thai kabur melintasi perbatasan setelah melakukan serangan-serangan di Thailand.

Pedalaman Thailand selatan yang terdiri provinsi Naratiwat, Pattani dan Yala, telah dijadikan ajang perjuangan separatis selama lima dasawarsa silam.

Perjuangan ini mendapat dukungan banyak milisi pada Januari 2004, ketika pemberontak menyerang sebuah gudang senjata militer dan mencuri 300 senjata, yang kemudian memicu tindakan pemerintah menumpas gerakan.

Lebih dari 1.900 orang tewas menjadi korban ketika kekerasan makin meningkat.

Thailand selatan, dulunya dikenal sebagai wilayah kesultanan Islam Pattani yang merdeka, dan ditaklukkan oleh Bangkok pada tahun 1786, yang kemudian berada di bawah kekuasaan langsung birokrasi Thailand pada tahun 1902.

Lebih dari 80 persen dari dua juta penduduk yang tinggal di wilayah ini terdiri etnik Melayu Muslim.

Perjuangan pemisahan diri terhadap Thailand yang mayoritas penduduknya menganut Budha membara dan sejak berakhirnya Perang Dunia II, ketika orang kuat militer Thailand Field Marshal Phibul Songkhram melarang menggunakan bahasa Melayu di sekolah-sekolah dan memaksa penduduk setempat berhenti menggunakan pakaian Melayu, dan mengganti nama dengan nama Thai.

Gerakan separatis Pattani tumbuh pesat sebagai akibat dari nurani keagamaan dari penduduk setempat, dan perubahan kebudayaan dari negara Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Budha. (*/lpk)