"Bayangkan, kemudahan untuk berinvestasi di China itu, tidak perlu berlama-lama mengurus perizinan cukup maksimal tiga hari saja sudah bisa jalan," kata anggota DPR dari Komisi VI, Zulkifli Hasan, dalam sebuah diskusi menyoal kebangkitan RRC, di Bandarlampung, Kamis.
Menurut Zulkifli yang juga Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) itu, kebijakan investasi di RRC begitu mudah kalau dalam waktu maksimal tiga hari pengurusan izin dan lainnya untuk investasi belum tuntas, dianggap semua telah disetujui dan tinggal berjalan saja.
"Bagaimana dengan kita, sudah berbulan-bulan, masih saja kesulitan mendapatkan izin investasi," kata Zulkifli lagi.
Zulkifli yang pernah berpengalaman berbisnis di China sebelum duduk di legislatif itu, menyebutkan, kebijakan di negeri tirai bambu tersebut adalah membentangkan karpet merah untuk siapapun investor yang mau datang.
Berbagai kemudahan menarik investasi masuk ke RRC itu, antara lain yang mendorong negeri itu tumbuh dengan pesat, dengan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 9-10 persen per tahun. Indonesia pertumbuhan ekonominya hanya pada kisaran 5-6 persen per tahun.
Kini China menjadi kekuatan ekonomi nomor lima terbesar di dunia yang diprediksi dalam sepuluh tahun yang akan datang sudah akan berada pada posisi nomor dua terbesar, bahkan diperkirakan dalam waktu tidak lama lagi China bisa mengalahkan dominansi ekonomi AS di dunia.
"Saat ini saja, sebanyak sekitar 70 persen defisit perdagangan dunia bersumber dari AS, tapi 50 persen dari 30 persen surplus perdagangan dunia berasal dari RRC," cetus Zulkifli yang berbicara di forum bersama pengamat China dari UI, Prof A Dahana, Ketua Bappeda Lampung, Suryono SW, dan pengusaha Lampung Johnson Kasim.
Padahal setelah investasi masuk dan bertumbuh di Cina, pemerintah setempat menerapkan ketentuan ketat untuk membawa hasil usahanya keluar negara itu.
"Ibaratnya, investasi masuk dibuat sangat gampang tapi kalau mau keluar mesti dikontrol oleh pemerintah Cina," kata dia lagi, dalam acara yang digelar Harian Umum Lampung Post itu.
Menurut Prof A Dahana, salah satu keberhasilan RRC yang kini telah menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi dunia itu, dengan kebijakan pasar bebas yang terkontrol dijalankan oleh Deng Xiao Ping yang dilanjutkan penerusnya Zhu Rong Ji.
Visi RRC juga terus menerus melakukan reformasi dan kebijakan negara yang membuka diri serta melakukan modernisasi, tidak sekadat mengikut saja pada arus globalisasi.
"Kendati awalnya sangat menyakitkan dirasakan masyarakat China, tapi sekarang mereka bisa menikmati keberhasilan itu," kata Dahana lagi.
Pemerintah China juga terbuka kepada masyarakatnya, dengan menyampaikan rencangan kebijakan negara seluas-luasnya dan sejelas-jelasnya kepada rakyatnya, untuk menunjukkan mau dibawa kemana negeri itu ke depan.
Keterbukaan kebijakan itulah yang mendorong mayoritas penduduk China pada akhirnya bisa mengerti dan bahu membahu mendukung tujuan yang hendak dicapai negaranya. (*/rsd)