Kenyataan tersebut terungkap dalam diskusi Kebangkitan Ekonomi Cina yang digelar Harian Umum Lampung Post, di Bandarlampung, Kamis.
Diskusi itu menghadirkan Prof A Dahana (pengamat China/Ketua Dewan Riset dan Pengabdian Universitas Indonesia), Zulkifli Hasan (anggota Komisi VI DPR asal Lampung), Johnson Kasim (pengusaha/pembina masyarakat etnis China di Lampung), dan Ketua Bappeda Lampung, Suryono SW.
Menurut Prof Dahana, RRC kini telah mengalami perubahan dari semula sebagai bangsa adidaya di masa lalu, tapi kemudian menjadi negeri jajahan, kemudian bangkit kembali sebagai negara adidaya sekarang ini.
"Sekitar satu abad telah dilalui bangsa China itu sebagai masa-masa yang menyakitkan, hingga menggapai sukses sekarang ini," kata Dahana pula.
Namun Dahana menyebutkan, saat ini RRC masih harus bersaing dengan sejumlah negara besar di dunia terutama dengan AS sebagai adidaya.
Dia menilai, China juga telah banyak belajar dari kesalahan yang dijalankan oleh AS, terutama pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush.
"China lebih banyak menunjukkan kapasitas adidaya dengan memperkuat hubungan dagang, politik luar negeri yang lunak, dan kebudayaan sebagai kebijakan lebih mengedepankan softpower dibandingkan AS yang justru lebih menonjolkan hardpower dengan kekuasaan militernya, seperti invasi di Irak," ujar Dahana lagi.
Dahana menyebutkan pula, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, pemimpin China menerapkan kebijakan sofpower melalui penyebaran kebudayaan China ke dunia internasional.
"Bagi mereka, pelajaran Bahasa Mandarin menjadi salah satu alat politik luar negeri yang tepat," kata Dahana.
"China bersedia membantu negara lain untuk menguasai bahasa China dengan mengirimkan para guru ke negara-negara tersebut, khususnya di wilayah Asia termasuk Indonesia," kata Dahana pula.
Belajar dari kebangkitan ekonomi China dan posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, Dahana memertanyakan kondisi kebangkitan ekonomi Indonesia yang sampai sekarang belum tercapai, padahal seharusnya Indonesia bisa meraih keberhasilan tiga kali lebih baik dibandingkan RRC itu.
"Seharusnya dengan kondisi dan latarbelakang dimiliki bangsa kita, kemajuannya tiga kali dibandingkan RRC," kata Dahana menjelaskan.
Dialog yang diikuti kalangan dunia usaha, mahasiswa, aktivis LSM, politisi, wartawan, dan profesional serta tokoh masyarakat itu berkaitan dengan rencana Harian Umum Lampung Post untuk menerbitkan edisi Xin Wen. (*/rsd)