RI Berlakukan Standar Harga BBM Internasional Bagi Warga PNG
Kapanlagi.com - Pemerintah Republik Indonesia (RI) memberlakukan harga standar internasional bagi pelintas batas Papua Nugini (PNG) yang membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di Wutung, Kota Jayapura, Provinsi Papua, wilayah perbatasan Indonesia dengan PNG. Hal itu disampaikan Konsul Jenderal (Konjen) Indonesia untuk Vanimo, Ignatius Kristanyo Hardojo kepada ANTARA di Jayapura, Rabu (21/02). Menurut Kristanyo Harga BBM yang diberlakukan di perbatasan Indonesia itu bertujuan mencegah pelintas batas membeli BBM pada Stasiun pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di Kota Jayapura dan sekitarnya sebab harga BBM seperti solar dan bensin yang berada di SPBU tersebut merupakan subsidi dari Pemerintah Indonesia agar harga BBM bisa dijangkau masyarakat kecil. "Kalau para pelintas batas dari PNG diperbolehkan membeli BBM pada SPBU maka mereka bisa memborong BBM dan masyarakat Indonesia yang berada di Jayapura dan sekitarnya tidak mendapat jatah BBm yang mereka butuhkan," katanya. Dia menjelaskan pembelian BBM secara besar-besaran dapat terjadi sebab harga mata uang PNG, Kina nilainya lebih tinggi dibanding dengan mata uang Indonesia, Rupiah yaitu Rp 3. 000 per Kina. Untuk itu, lanjutnya pemerintah akan membangun tempat penjualan BBM di tapal batas RI-PNG guna mencegah terjadinya pembelian secara besar-besaran oleh warga PNG dengan hitungan nilai rupiah. Selain itu pemerintah juga akan memberi batasan, berapa liter BBM yang akan diperjual-belikan di wilayah perbatasan itu. Dia mencontohkan harga BBM seperti solar per liter mencapai empat Kina atau sebesar Rp 12.000 per liter dan bensin sebesar 4,50 Kina atau sebesar Rp14.000 per liter. "Harga standar intenasional masih lebih murah jika dibandingkan dengan harga BBM di PNG," ujarnya. Dia mengatakan tingkat biaya hidup di PNG lebih tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia. Maka tidak heran jika banyak warga PNG yang datang berbelanja ke perbatasan Indonesia, sebab harga kebutuhan pokok di Indonesia lebih murah ketimbang di PNG. Walaupun warga PNG harus menempuh jarak 45 Kilometer dari Vanimo ke Wutung, Provinsi Papua namun mereka tetap rajin datang berbelanja di wilayah Indonesia karena harga barang-barang kebutuhan pokok relatif murah. "Ini faktor mata uang, jika mata uang seperti Kina ditukar ke dalam Rupiah maka maka nilainya menjadi lebih banyak. Berbeda jika warga PNG itu menggunakan mata uang mereka ditempat asalnya maka bagi mereka harga kebutuhan pokok di negaranya itu tidak terjangkau," katanya. (*/rit) |