Salah seorang supir bus kota Kartini, Abdul Basit (33) mengatakan, hari pertama beroperasi masih sepi penumpang walau sudah tiga kali melewati rute angkutan kota tersebut.
Hal ini dibenarkan juga oleh Sarno Patrio (21), sebagai kondekturnya. "Dari pagi hingga siang ini belum sampai 20 orang penumpang yang naik bus ini" ungkapnya saat bus kota wanita ini berhenti di depan Plaza Senapelan di pusat kota Pekanbaru.
Tak jauh berbeda dengan Muslim (38) sopir bus kota wanita Kartini lainnya, juga mengatakan hal yang senada.
Menurut mereka, sepinya penumpang pada hari pertama beroperasinya bus khusus kaum hawa itu mungkin karena masyarakat belum tahu.
"Biasalah hari pertama. Mudah-mudahan seminggu kedepan ada perubahan tambahnya," ujar Muslim. Muslim mengaku baru pertama kali mengemudikan bus kota yang penumpangnya wanita semua, sebelumnya ia berprofesi sebagai sopir Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP).
Ia mengaku merasa sedikit lebih aman dan tidak was-was mengemudi bus ini, karena sedikit kemungkinan terhindar dari perampok laki-laki.
Bus kota wanita yang dikemudikan Muslim telah empat kali melewati Jalan sudirman depan Plaza Senapelan, tapi masih kurang dari 20 penumpang yang naik, padahal isi satu bus mencapai 27 penumpang.
Untuk bus kota ini Muslim dan sopir lainnya, digaji sekitar Rp800.000/bulan dan ditambah uang makan Rp7000/hari. Sedangkan untuk kondekturnya digaji sekitar Rp450.000/bulan dan ditambah uang makan Rp7000/hari. "Uang minyak ditanggung oleh bos (perusahaan), dan diluar tanggungjawab sopir," jelas Muslim.
Salah seorang penumpang Indah (33), mengakui baru tadi pagi mengetahui adanya bus kota wanita. Ia merasa aman menaiki bus ini, karena anaknya yang masih kecil terhindar dari asap rokok, tidak seperti di bus kota lainnya.
Sedangkan Yuli (33) warga Kulim, baru hari ini juga ia tahu ada bus kota wanita dan ia sangat menyambut positif karena tidak perlu berdesak-desakan dengan laki-laki yang badannya lebih besar dari wanita.
"Lagi pula ongkosnya sama saja," ujarnya ibu seorang balita itu. (*/rsd)