Advertisement
 
Kamis, 22 Februari 2007 11:27
Teori Kanker Payudara Dukung Kisah Wanita Kulit Hitam
Kapanlagi.com - Para ilmuwan yang telah mengajukan teori kontroversial bahwa operasi untuk mengangkat tumor payudara sebenarnya malah mungkin membantu kanker tersebut menyebar, Rabu (21/02), mengatakan gagasan mereka juga mungkin menjelaskan mengapa perempuan kulit hitam memiliki kemungkinan lebih besar meninggal akibat kanker payudara pada waktu lalu.

Meskipun menekankan bahwa perempuan mesti selalu melakukan pemeriksaan dan memperoleh perawatan kanker payudara, mereka mengatakan teori mereka juga dapat membantu menjelaskan kepercayaan, yang tersebar di beberapa bagian Afrika dan Amerika Serikat, bahwa pengangkatan tumor dapat mempercepat kematian.

"Saya harus mengatakan saya yakin ini bukan hanya sekedar mitos," kata Michael Retsky dari Children's Hospital dan Harvard Medical School di Boston. Hipotesis paling akhirnya, yang ia akui tak didukung oleh penelitian baru langsung, disiarkan dalam International Journal of Surgery.

Ia menekankan setiap perempuan yang menderita kanker payudara mesti melakukan operasi pengangkatan tumor tersebut. Dan ia menyatakan bahwa di Amerika Serikat, perempuan yang dapat dipandang menghadapi resiko kanker mereka menyebar sekarang dapat menjalani kemoterapi --proses yang dapat menghentikan penyebaran kanker.

"Saat ini kami tak menyarankan perubahan apa pun dalam kegiatan klinis. Kami kira ini adalah masalah yang memerlukan penelitian lebih lanjut," kata Retsky --yang telah bekerjasama dengan para ilmuwan lain di Saouth Carolina dan Italia, dalam suatu wawancara telefon.

American Cancer Society juga menegaskan bahwa perempuan mesti selalu memperoleh mammogram, dan mempertanyakan teori itu.

"Tak ada perempuan yang boleh menunda perawatan kanker payudara," kata ahli onkologi Dr. Len Lichtenfeld dari American Cancer Society dalam wawancara telefon.

"Yang kami tahu ... ialah melalui deteksi dini, kita mengetahui kanker secara dini, kita menghadapi resiko lebih kecil mengenai penyebaran ke kelenjar getah bening, kita meningkatkan harapan besar bagi perempuan yang terserang kanker payudara," kata Lichtenfeld.

"Apakah teori tersebut benar atau tidak, saya menghadapi kesulitan memberi penilaian logis ...," katanya.

Retsky dan rekannya mempelajari beberapa catatan mengenai perempuan yang telah menjalani operasi kanker payudara. Mereka menyiarkan satu studi pada 2005, yang menyatakan bahwa operasi mungkin mengakibatkan aktifnya tumor kecil yang sudah menyebar.

Sulut pertumbuhan

Retsky percaya mungkin terdapat dua mekanisme. Satu gagasan ialah operasi itu sendiri, dengan melukai tubuh, membuatnya memproduksi faktor pertumbuhan yang menyulut pertumbuhan lain, tumor kecil.

Teori lain berpendapat tumor utama menyimpan sejenis faktor yang berkaitan dengan tumor lain. Ketika tumor utama diangkat, tumor yang lebih kecil --yang sudah menyebar-- tumbuh secara bebas.

Kondisi tersebut menciptakan kesempatan bahwa kanker itu telah kembali, dengan ganas.

Semua faktor tersebut dikenal sebagai faktor anti-angiogenesis. Angiogenesis berarti pertumbuhan pembuluh darah, dan beberapa obat kanker baru memiliki faktor anti-angiogenesis, yang secara harfiah membuat tumor kehilangan pasokan darah mereka.

Namun, perempuan kulit hitam AS didiagnosis menderita kanker payudara pada usia rata-rata 46, sedangkan perempuan kulit putih pada usia 57 tahun, katanya.

Angka kematian mereka yang lebih tinggi pertama kali muncul pada pertengahan 1970-an, ketika mammography bagi deteksi dini dilakukan.

Mungkin saja sebagian perempuan kulit hitam memiliki kecenderungan genetika terhadap suatu bentuk khusus kanker payudara yang menjadi lebih agresif setelah operasi, kata Retsky.

"Ketika kita mencari kanker payudara di kalangan warga Afrika, satu kata umum yang muncul ialah agresif," katanya. (*/rit)









 

©2003-2007 KapanLagi.com