Riyono ketika ditemui di Semarang, Jumat, mengatakan, bila OP beras terus-menerus digencarkan, terutama di daerah yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan, hal ini akan merugikan petani.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan di beberapa pasar, katanya, harga beras saat ini sudah mulai turun meskipun belum mencapai harga normal seperti sebelum terjadi lonjakan makanan pokok ini.
"Kami baru saja memantau di Pasar Mijen, Semarang dan mendapati harga beras kualitas medium (C4) sudah turun menjadi Rp5.100 dari sebelumnya Rp5.500 per kilogram," katanya.
Menurut dia, harga beras tersebut masih akan turun di masa mendatang, karena awal Maret 2007 diperkirakan memasuki panen raya, bahkan petani di Kabupaten Demak dan Grobogan medio Februari 2007 sudah mulai panen.
Ia mengingatkan, jika OP beras tidak segera dihentikan, maka di pasar akan terjadi kelebihan pasokan, sehingga berpotensi menurunkan harga padi petani.
Apalagi, katanya, pemerintah juga mengumumkan mengimpor beras sebanyak dua juta ton untuk menutup kekurangan produksi akibat mundurnya musim panen lalu.
"Tanpa menggelar operasi pasar lagi, kami yakin harga beras secara perlahan akan menurun dan mencapai harga pasar yang sebenarnya, yang mencapai Rp4.000-Rp4.500 untuk beras mutu sedang," kata Riyono.
Menurut dia, lonjakan harga beras belakangan ini tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani, karena yang lebih banyak menikmati keuntungan yaitu para spekulan dan pedagang besar.
Mengenai pelaksanaan OP beras, ia menyatakan, kelak bila upaya ini kembali dilakukan, pemerintah harus lebih fokus pada penduduk yang membutuhkan beras murah, karena sebelumnya disinyalir banyak beras OP malah jatuh di tangan pedagang.
"Kalau mau OP beras, lakukan di pedalaman, bukan di tengah kota," katanya mengevaluasi. (*/rit)