"Berkisar 150-200 kontainer dari selatan (yang melintasi kawasan Porong) hingga kini belum bisa masuk," ungkap Humas PT TPS, Iwan Sabatini, di Surabaya, Jumat, menanggapi penutupan akses jalan di Porong, Sidoarjo.
Menurut dia, jumlah kontainer yang tertahan akibat penutupan akses jalan di Porong hingga hari ini diperkirakan semakin bertambah, mencapai dua kali dari sebelumnya.
Kondisi seperti itu, papar Iwan akan menjadi preseden buruk bagi perekonomian Jatim. Sebab, jika pengiriman kontainer-kontainer tersebut sampai tertunda maka akan mengurangi kepercayaan pembeli luar negeri.
Karena itu, ia berharap masalah hambatan akses transportasi di kawasan Porong segera dicarikan solusi, agar kendala yang serius itu tidak berlarut-larut.
PT TPS hingga akhir 2006 telah menangani arus petikemas sebanyak 1.053.486 "twenty equivalent units" (teus) dengan "ship call" 1.471. Sedangkan pada 2005 sebanyak 1.066.908 teus dan "ship call" 1.493.
Dengan demikian, terdapat penurunan sekitar 13.422 teus atau 1,2 persen, sedangkan dari jumlah kapal menurun 22 kapal.
"Meski penurunan itu relatif sedikit, tapi perlu menjadi perhatian kita semua. Apa yang mempengaruhi kegiatan ekspor impor di Jawa Timur itu," ujarnya.
Ia mengemukakan, sejak lumpur di Porong meluap hingga menyebabkan penutupan akses jalan tol Surabaya-Gempol ruas Porong-Gempol dan sebaliknya, transportasi dari dan ke Pelabuhan Tanjung Perak, khususnya di TPS, sudah mengalami hambatan.
Kini hambatan itu semakin terasa dengan penutupan akses jalan raya di kawasan Porong, tutur Iwan Sabatini.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Wakil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Agus Hariyadi, menyatakan bahwa pihaknya kini sedang menghadapi masalah yang dilematis.
Di satu sisi memahami kesusahan warga Perum TAS yang nekad menutup sejumlah akses jalan umum, karena belum adanya kepastian ganti rugi. Tapi, di sisi lain blokade warga itu sangat menggangu roda perekonomian Jatim.
Karena itu, ia berharap para wakil rakyat di Sidoarjo berinisiatif melakukan komunikasi persuasif, sehingga warga menghentikan aksi blokade. (*/rsd)