"Gangguan para gengster yang berasal dari kelompok bela diri itu biasa terjadi dimana-mana dan polisi berkewajiban untuk mengamankan," kata Konsul Timor Timur, Caetano de Sousa Guterres kepada pers di Kupang, Sabtu (24/02).
Ia mengemukakan hal ini ketika dikonfirmasi mengenai situasi terakhir di Dili, Timor Timur menyusul tewasnya seorang warga sipil yang ditembak oleh tentara Australia, Jumat (23/02) setelah melepaskan anak panah baja ke arah tentara itu.
Pasukan Pertahanan Australia (ADF) dalam laporannya seperti dikutip AFP mengatakan, tentara Australia yang menembak mati seorang warga sipil Timtim itu sebagai bentuk bela diri setelah terkena panah baja ketika terjadi keributan di sebuah camp dekat Comoro Dili.
Guterres mengatakan, situasi keamanan di Dili setelah insiden penembakan itu, dilaporkan berangsur pulih dan hal itu tidak mengarah pada instabilitas negara.
Warga negara Indonesia (WNI), kata dia, tetap melakukan aktivitas seperti biasa dan mereka tidak merasa takut seperti pada insiden beberapa waktu lalu menyusul pemecatan anggota tentara Timtim.
Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kol Inf Arief Rachman yang dihubungi secara terpisah mengatakan, WNI yang ada di Dili tidak merasa terganggu dengan insiden yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini di ibukota negara Timtim itu.
"Menurut laporan kedutaan kita di Dili, WNI yang ada di ibukota negara itu tetap melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak terlalu merasa cemas dengan situasi yang terjadi saat ini," katanya.
Ketika ditanya tentang keamanan di perbatasan, Danrem Arief Rachman mengatakan, pasukan TNI yang ada di perbatasan melakukan patroli seperti biasa dan terus meningkatkan keamanan.
"Sampai sejauh ini tidak ada gangguan yang berarti di wilayah tapal batas kedua negara. Lalu lintas manusia dari dan ke Dili masih berjalan normal sampai sekarang tanpa adanya hambatan," katanya menambahkan. (*/lpk)