< >

Unair Temukan Desinfektan Flu Burung

Minggu, 25 Februari 2007 17:12
Kapanlagi.com - Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr drh Fedik Abdul Rantam bersama tim ahli Unair telah menemukan desinfektan untuk Flu Burung.

"Kalau selama ini fogging (pengasapan) desinfektan Demam Berdarah, maka kami sudah merancang desinfektan Flu Burung," ujarnya kepada ANTARA di Surabaya, Minggu (25/02).

Guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Surabaya yang dikukuhkan pada 24 Februari itu menjelaskan desinfektan itu akan membunuh virus Flu Burung bila disemprotkan di kandang/sarang hewan.

"Dengan desinfektan Flu Burung itu akan dapat mencegah menjalarnya virus itu kepada manusia, karena begitu ada dugaan adanya hewan mati karena Flu Burung, maka penyemprotan dapat langsung dilakukan," ucapnya.

Menurut ahli virologi itu, desinfektan Flu Burung itu akan diperkenalkan kepada publik pada 27 Februari melalui sebuah peluncuran yang didukung Eka Cipta Foundation.

"Munculnya virus baru seperti Flu Burung itu sebenarnya wajar, sebagai akibat dari perubahan alam secara global atau dampak perubahan iklim global, sehingga penyakit atau virus pun mengalami mutasi," paparnya.

Ahli immunologi itu menegaskan bahwa virus itu mudah berubah dengan mengikuti perubahan iklim secara global, sehingga dapat dipresiksi munculnya virus baru di masa-masa mendatang.

"Saat ini, kami sedang melakukan prediksi dengan mengikuti virus Demam Berdarah akan menjadi apa di masa datang, sehingga penyakit ke depan juga dapat diprediksi dan diantisipasi," katanya.

Dalam kaitan itu, katanya, tim FKH Unair Surabaya telah membuat vaksin DNA untuk Demam Berdarah yang akan diperkenalkan pada April mendatang.

"Kami sudah merancang prototipe protein e-rekombinan untuk Demam Berdarah, tapi terjadi mutasi, sehingga prototipe yang kami rancang menjadi sia-sia, karena itu kami memutuskan untuk merancang vaksin DNA untuk Demam Berdarah," ungkapnya.

Profesor Fedik Abdul Rantam dikukuhkan bersama Guru Besar Analis Farmasi Unair Surabaya Prof Dr.rer.nat H Mochammad Yuwono MS Apt dan Guru Besar Farmasetika Unair Surabaya Prof Dr Widji Soeratri DEA Apt.

Kedua guru besar farmasi itu menyoroti standarisasi produk farmasi di Indonesia yang belum memenuhi syarat, sehingga industri farmasi di Indonesia akan terancam dengan pemberlakukan Harmonisasi ASEAN 2008 yang membolehkan peredaran obat lintas negara dengan standar setara. (*/lpk)