"Kebutuhan pabrik CPO masih cukup banyak, tapi minimal kita akan bangun 24 unit. Pembangunan akan dilaksanakan oleh BUMD Bengkulu Mandiri," kata Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin ditemui usai meletakan batu pertama pembangunan pabrik CPO di Kecamatan Karang Tinggi, Bengkulu Utara.
Menurut dia, idealnya setiap enam hektare hamparan kebun sawit harus ada satu unit pabrik pengolahan CPO mini berkapasitas 30 ton/jam.
Sejak lima tahun terakhir ini, perkembangan kebun kelapa sawit di Bengkulu cukup pesar. Luasan kebun sawit saat ini mencapai 200 ribu haktare hektare (Ha) yang tersebar di delapan kabupaten.
"Dengan luasan kebun 200 ribu hektare, berarti dibutuhkan 34 unit pabrik CPO, tapi yang akan kita bangun hanya 24 unit, itupun akan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran," katanya.
Anggaran yang disetujui DPRD untuk pembangunan pabrik CPO itu sangat minim. Untuk 24 unit hanya dialokasikan dana Rp10 miliar, sementara biaya pembangunan satu unit saja butuh dana Rp40 miliar.
"Dilihat dari kondisi dana memang sepertinya sulit, tapi dengan berbagai upaya tetap akan kita lakukan. Caranya dengan menggandeng perusahaan. Dana dari APBD Rp10 miliar hanya akan digunakan untuk pancingan saja," katanya.
Dana itu akan digunakan untuk pembebasan lahan dan pembangunan awal seperti peletakan batu pertama, dan nanti diharapkan pembangunan fisiknya dilakukan investor.
Bgaimana jika tidak ada investor yang bersedia membangun, tanya wartawan. Gubernur menyatakan tetap yakin akan ada investor, tapi kalau memang tidak ada maka pembangunannya dilaukan secara patungan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Agusrin mengatakan, perkembangan kebun sawit yang cukup besar harus disertai dengan penambahan industri pengolahan CPO, agar tidak terjadi over produksi yang berakibat pada jatuhnya harga jual Tandan Buah Segar (TBS).
"Kalau kita tidak mulai membangun pabrik pengolahan sawit, pada tahun 2009 atau 2010, harga TBS akan kembali jatuh seperti tahun lalu yang hanya Rp100/Kg," katanya.
Ia juga menjelaskan, gebrakan pembangunan industri pengolahan CPO yang dilakukan Pemprov sejauh ini telah berhasil mendongkrak harta TBS petani hingga saat ini mencapai Rp800-Rp900/Kg.
Agusrin melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik CPO di Kecamatan Karang Tinggi Bengkulu Utara dengan kapasitas 30 ton/jam. (*/rsd)