< >

A Mild IBL 2007 Masih Kurang Greget

Sabtu, 03 Maret 2007 08:52
Kapanlagi.com - Memasuki hari keempat, kompetisi basket tertinggi A Mild Indonesia Basketball League (IBL) 2007 di Gedung Basket Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Jumat, ternyata masih kurang greget.

Hampir di setiap pertandingan, gedung yang berkapasitas 4.000 penonton itu nyaris kosong melompong dan, tidak pernah terisi bahkan seperempat kapasitas sekalipun.

Dalam pertandingan pun, tidak terjadi kejutan dan hasil pertandingan sudah bisa ditebak, terutama ketika terjadi pertemuan tim papan atas menghadapi tim papan bawah.

Kurangnya greget dan kurang semaraknya atmosfir kompetisi diakui oleh Freddy Gorey, pelatih Angsapura Sania Medan, dan asisten pelatih Indonesia Muda Jakarta Tri Adnyana Adiloka.

"Penonton sekarang sudah mulai memilih-milih pertandingan yang akan ditonton. Kalau kompetisi bergulir di Jakarta, yang ramai hanyalah pertemuan antara Satria Muda menghadapi Putra Riau," kata Freddy.

Kurangnya greget kompetisi IBL, menurut Freddy, tidak lepas dari jeleknya mutu pertandingan itu sendiri.

Freddy yang dikenal suka bicara ceplas-ceplos itu mengakui bahwa sebenarnya masih banyak pemain dengan kualitas tidak memenuhi syarat, tapi terpaksa dimainkan karena klub-klub memang tidak punya persediaan pemain bagus.

Kalau pun ada pemain bagus, langsung dicomot oleh klub kaya, sehingga klub papan bawah hanya mendapatkan ampasnya.

Akibatnya yang terjadi adalah pertandingan berlangsung berat sebelah dan sama sekali tidak menarik untuk disaksikan karena pertandingan tersebut sama sekali tidak memberikan hiburan bagi penonton.

"Mana ada pemain lokal yang mampu memberikan atraksi seperti aksi-aksi dunk," kata Fredddy.

Untuk kompetisi mendatang, Freddy mengharapkan agar promotor mulai menjajaki kompetisi dengan pemain negro asal AS yang pernah dilakukan pada awal 1990-an di era Kobatama.

"Hanya satu-satunya cara kalau ingin menjadikan IBL sebagai tontonan yang menarik. Pemain lokal belum bisa memberikan atmosfir yang menggairahkan," katanya menambahkan.

Sementara itu Tri Adnyana mengatakan bahwa kondisi yang seperti saat itu bisa jadi karena kurangnya pengalaman Indika Production sebagai promotor.

"Saya berharap mereka di putaran ke depan mempunyai program yang lebih inovatif agar suasana kompetisi tidak lesu seperti sekarang ini," kata Tri yang pernah berjasa mengantar Indonesia ke tangga juara kejuaraan Asia Tenggara (SEABA) pada 1996 di Surabaya.

Salah satu pertandingan yang tidak menghadirkan kejutan atau pun atraksi yang enak ditonton adalah pertemuan antara Indonesia Muda vs Angsapura yang berakhir 66-44 untuk kemenangan Indonesia Muda.

Dari empat kuarter pertandingan, Angsapura hanya mampu memberikan perlawanan pada kuarter ketiga dengan skor tipis 15-16.

Tapi sepanjang kuarter keempat, Indonesia Muda kembali mendominasi dan mengakhiri pertandingan dengan skor telak 66-44.

Saat ini masih berlangsung partai gerakhir yang mempertemukan juara bertahan Satria Muda Britama dengan Kalila. (*/cax)


BERITA TERKAIT