"Itu hanya perseteruan antarkampung. Tidak ada kaitan dengan jaringan teror yang terlibat konflik di Ambon beberapa waktu lalu," katanya ketika dikonfirmasi disela-sela peringatan HUT Kostrad ke-46 di Malang, Jawa Timur, Selasa.
Ia menegaskan, bom pada Senin (5/3) di daerah setempat merupakan rakitan yang dibuat oleh warga kampung yang sedang berseteru.
"Itu kan rakitan, siapa pun bisa membuatnya. Jadi tidak ada kaitannya ledakan bom dan temuan bom dengan jaringan teroris," kata Syamsir.
Syamsir Siregar mengatakan, saat ini aparat dalam hal ini adalah kepolisian terus melakukan penyelidikan atas peledakan bom di Pelabuhan Yos Sudarso dan temuan bom rakitan di Ambon Plaza.
Sebelumnya, pada hari Senin(5/3) Kota Ambon Ibukota Provinsi Maluku, kembali dilanda aksi teror bom yang sengaja diletakkan orang tidak dikenal di lahan kosong yang terletak sekitar lima meter samping kiri pusat perbelanjaan terbesar Ambon Plaza (Amplaz).
Mendapat laporan dari warga, tim Jihandak Polda Maluku langsung menuju lokasi dan memasang police line, selanjutnya melakukan pemeriksaan dan menemukan sebuah bom rakitan masih aktif berukuran panjang sekitar 20 cm.
Bom yang dilengkapi dengan sumbu itu, langsung diamankan ke dalam mobil Jihandak untuk dibawa ke Markas Brimob Polda Maluku guna diuraikan.
Diperkirakan aksi teror bom itu ada kaitannya dengan kasus peledakan bom di pintu masuk Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Sabtu (3/3) lalu yang berakibat 13 orang menderita luka-luka.
Ledakan bom di Pelabuhan Yos Sudarso terjadi saat penumpang KM Bukit Siguntang merapat ke pelabuhan untuk menurunkan para penumpang.
Bom diletakkan di pintu keluar penumpang pelabuhan tepatnya samping gudang barang atau samping tempat parkir kendaraan. (*/cax)