< >

Korsel-AS Berjanji Akan Fleksibel Soal FTA

Kamis, 08 Maret 2007 20:21
Kapanlagi.com - Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) pada Kamis memulai lagi putaran baru pembicaraan perdagangan bebas. Kedua pihak berjanji akan fleksibel sehubungan tenggat waktu yang makin dekat.

Kedua perunding utama, Kim Jong Hoon dari Korsel dan Wendy Cutler dari AS, berjabatan tangan menandai peresmian pembicaraan lima hari di hotel Seoul di tengah pengamanan yang ketat, kantor berita Korsel Yonhap melaporkan.

Kedua pihak mengatakan setelah putaran ketujuh pada Februari di Washington bahwa progres "yang signifikan" telah tercapai untuk menyelesaikan perundingan mereka mengenai kesepakatan perdagangan bebas (FTA) yang sudah berlangsung selama 10 bulan hingga akhir Maret, namun masih terdapat perbedaan besar di sejumlah produk pertanian, antara lain beras.

"Terlihat bahwa kedua pihak akan sama-sama berupaya mencapai resolusi, yang memasukkan perspektif perundingan keseluruhan, mengenai tidak hanya isu utama di sejumlah bagian seperti otomotif, perdagangan obat-obatan dan farmasi, namun juga isu-isu yang masih ada di bagian lain," kata kementerian urusan luar negeri dan perdagangan Korsel setelah putaran FTA sebelumnya.

"Putaran pembicaraan kedelapan di Seoul sangat penting. Kami mengupayakan untuk membuat banyak kemajuan pada pekan ini," kata Cutler kepada wartawan menjelang kunjungannya di Korsel Rabu.

Dalam sebuah laporan ke komite parlemen pada Rabu, Menteri Perdagangan Korsel Kim Hyun Jong seperti dikutip Yonhap mengatakan bahwa negaranya akan menunjukkan "fleksibelitas maksimum" untuk mencapai kesepakatan.

Namun Kim mengatakan bahwa putaran yang lain perlu dilakukan sepekan sebelum tenggat waktu.

Otoritas promosi perdagangan "jalur cepat" Presiden AS George W Bush akan berakhir masa berlakunya pada 1 Juli. "Jalur cepat" berarti bahwa Bush dapat menandatangani kesepakatan perdagangan dengan negara asing sebelum kongres memutuskan tentang itu.

Pembicaraan perdagangan bebas antara dua negara itu dibuka di tengah pengamanan yang ketat sehubungan alinasi petani dan kelompok buruh Korsel diperkirakan akan melaksanakan protes jalanan menentang rencana FTA itu.

Sejumlah warga Korsel menentang kesepakatan itu karena khawatir atas melonjaknya impor, investasi dan masuknya kebudayaan AS, sementara sejumlah warga Korsel lainnya berharap kesepakatan itu menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industrinya untuk bersaing secara global.

Korsel telah memiliki FTA dengan Cile, Singapura dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa yang terdiri atas Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein.

Negara itu juga sedang dalam perundingan perdagangan bebas dengan Kanada dan Jepang. (*/rsd)