Hal itu ditegaskan mantan Dutabesar dan Ketua Delegasi Eropa untuk Jepang Bernhard Zepter (Brussels) dalam pidatonya, "Refleksi Eropa terhadap Regionalisasi", di Jakarta hari Rabu.
Dalam acara diselenggarakan Yayasan Asia Eropa itu, Zepter mengungkapkan bahwa Eropa masih memainkan peran penting di kawasan dan menawarkan banyak kesempatan untuk menggalang kerjasama dengan Asia.
Menurut mantan Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Eropa itu, Pasar Tunggal Eropa dapat memberikan kesempatan pada wilayah lain, seperti, Asia.
"Tujuan pasar tunggal itu, yang sedang dalam proses, antara lain mempersempit rintangan dan meningkatkan kesempatan pasar, menyederhanakan aturan dan perundang-undangan, dan mendorong kemajuan pasar, yang dinamis," katanya.
Ia mengatakan Asia memang terlambat masuk dalam agenda Uni Eropa, namun kini menjadi prioritas, sehingga proses regionalisasi Asia sangat penting dan harus ditingkatkan.
"Asia adalah pemenang globalisasi, benua dengan banyak kesempatan luar biasa, tapi juga potensial dalam ketidakstabilan dan konflik. Oleh karena itu, Eropa ingin dan akan melakukan lebih untuk Asia," katanya.
Sementara itu, peneliti senior Institut Pengkajian Asia Tenggara, Rodolfo C Severino, dalam pidatonya pada acara itu mengatakan regionalisasi di Asia Tenggara adalah gejala, yang sedang terjadi.
Ia mengungkapkan, dua kekuatan pendorong regionalisasi adalah kekuatan pasar, yakni apresiasi terhadap yen, dan Cina, yang membuka perdagangan internasional.
"Dorongan utama untuk regionalisasi adalah menghindari perang dan untuk manfaat ekonomi," demikian katanya. (*/lpk)