"Kami sadar industri ritel tidak mungkin berkembang tanpa dukungan suplier. Jadi, kami upayakan untuk tidak egois dan win-win solution untuk keuntungannya," kata Dany, di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan sejak cikal bakal Matahari berdiri pada 1958, pihaknya telah menjalin hubungan baik dengan pemasok yang sebagian besar adalah industri UKM (Usaha Kecil dan Menengah).
Sebanyak 30.000 produk yang didisplay di seluruh cabang Matahari termasuk Hypermarket, lebih dari sepertiganya adalah produk UKM.
Ia juga membantah keberadaan Hypermarket Matahari mematikan pertumbuhan pasar tradisional karena selama ini Matahari justru selalu berupaya merangkul pedagang-pedagang lokal agar menyuplai barang ke peritel tersebut.
"Kami kerap mengambil langsung dari pasar tradisional karena tidak mungkin semua produk disuplai dari satu tempat demi memperhitungkan biaya transportasi," katanya.
Dengan upaya itu, sekaligus ia berharap omzet pedagang lokal di pasar tradisional meningkat.
Dany mengatakan, siap menampung produk-produk UKM seperti yang selama ini kerap dilakukan.
"Kami menyediakan ruang untuk ibu-ibu koperasi yang membuat jajanan pasar dan kami display berikut promosinya," katanya.
Untuk mewujudkan itu, sebelumnya dilakukan kesepakatan-kesepakatan yang poin-poinnya tercantum dalam trading term.
"Di sinilah negoisasi dilakukan dan sama sekali tidak ada paksaan," katanya.
Di dalam trading term terdapat sejumlah kesepakatan, di antaranya listing fee, fixed rebate, conditional rebate, promotion discount, opening discount, dan high season discount.
"Calon pemasok datang ke bagian merchandising lalu kalau term-term sudah disepakati bisa langsung jalan dan harus dijaga kontinyuitasnya," katanya. (*/rsd)