"Revitalisasi itu merupakan upaya meningkatkan perkebunan rakyat dan mengentaskan kemiskinan serta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan penyerapan tenaga kerja," kata Direktur Jenderal Budidaya Tanaman Tahunan Deptan Mukti Sarjana di Bengkulu, Jumat (16/03).
Menurut dia, dalam revitalisasi itu pengelolaan berkebunan diserahkan kepada masyarakat. Untuk optimalisasi pengolahan akan didamapingi oleh perusahaan perkebunan sebagai afalis.
Kegiatan revitalisasi akan dibiyai dengan dana kredit dari lima perbankan yang telah ditunjuk oleh pemerintah yakni BRI, Bank Mandiri, Bank Bukopin, BPD Sumatera Barat dan BPD Sumatera Utara.
Perbankan telah mengalokasikan dana Rp25 triliun untuk kegiatan itu, dengan rincian dari BRI Rp15 triliun, Bank Mandiri Rp11 triliun, Bank Bukopin Rp1 triliun, BPD Sumbar Rp900 miliar dan BPD Sumut Rp500 miliar.
Untuk membantu para petani, pemerintah akan mensubsidi bunga kredit bank itu, masyarakat hanya dibebankan membayar bunga sebesar 10% per tahun.
"Jadi kalau nanti bank menetapkan bunga 18% per tahun, yang delapan% akan dibayar oleh pemerintah. Petani tetap hanya membayar 10% saja," katanya.
Karena sifatnya membantu petani, ada tengang waktu lima tahun untuk perkebunan sawit dan kakao, tujuh tahun untuk karet dalam pengembalian kredit.
Jadi petani mulai mencicil kreditnya setelah kebunnya menghasilkan, dan jumlah cicilan per bulan akan disesuaikan dengan penghasilan para petani.
Ia juga menjelaskan, program revitalisasi perkebunan itu akan dilakukan di berbagai daerah termasuk Provinsi Bengkulu, dan ketentuan setiap kepala keluarga maksimal diberi kebun empat hektare.
Dipilihkan tiga komoditi dalam program revitalasisi perkebunan, menurut dia karena selama ini perkebunan paling banyak menyerap tenaga kerja serta menjadi andalan ekspor sektor pertanian.
Saat ini, tenaga kerja yang terlibat pada sektor perkebunan sawit sebanyak 2,5 juta kepala keluarga (KK), perkebunan karet 1,4 juta KK dan kakao 500 ribu KK.
Kemudian ekspor tiga komoditi tersebut juga cukup besar mendatangkan devisi bagi negara. Pada 2005, devisa dari ekspor pertanian sebesar US$10,9, dan 70% di antaranya sawit, karet dan kakao. (*/rit)