Pangsa Pasar Ritel Modern Jauh Tertinggal Dengan Pasar Tradisional

Kapanlagi.com - Director Corporate Communication PT Matahari Tbk, Dany Kojongian, mengatakan, pangsa pasar ritel modern masih kalang saing dan tertinggal jauh dengan pasar tradisional.

"Masyarakat kita, 70% masih setia menjadi konsumen pasar tradisional dan hanya 30% yang tersegmen menjadi pelanggan ritel modern," kata Dany, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, pasar tradisional masih tetap digemari karena memiliki kelebihan harganya bisa ditawar.

Sedangkan, harga di hypermarket berlabel dan pasti tanpa bisa ditawar. Oleh karena itu, ia membantah bahwa pasar ritel modern seperti hypermarket membunuh pasar tradisional sebab keduanya berada dalam dua segmen yang amat berbeda.

"Masalah ini harus dikaji lebih dalam dan harus segera didapatkan pandangan baru tentang pasar peritel modern vs pasar tradisional," katanya.

Keberadaan hypermarket, menurut dia, justru dapat dijadikan bahan acuan untuk mengelola pasar tradisional agar lebih efisien dan kompetitif sehingga digemari konsumen.

"Pasar tradisional hanya perlu diremajakan agar lebih kompetitif," katanya.

Ia mengatakan, pasar ritel modern juga sudah semestinya didorong pertumbuhannya sebab banyak industri turunan di dalamnya yang sanggup menyerap tenaga kerja.

Sebagai contoh, saat ini Matahari mempekerjakan sebanyak 20.400 karyawan yang kesemuanya dikelola anak negeri.

Hingga 2007, Matahari telah berinovasi dengan membuka Hypermarket sebanyak 27, Department Store 83, dan Supermarket sebanyak 38, di 50 kota besar seluruh Indonesia.

Matahari menargetkan jumlah 90 hypermarket hingga 2010 sehingga diperlukan penambahan 15-18 gerai setiap tahun di mana setiap gerai berisi 30.000 jenis produk dengan investasi Rp20 miliar-Rp25 miliar.

"Dari situ diharapkan, Matahari dapat mendorong pertumbuhan sektor riil di Tanah Air sehingga kestabilan moneter dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat," demikian Dany Kojongian. (*/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com