Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar mengatakan, dia akan membahas cara-cara untuk meredakan krisis dengan mitra sejawatnya dari Thailand, Nitya Pibulsonggram, dalam pertemuan yang dijadwalkan Kamis di Malaysia.
"Apa yang terjadi di Thailand selalu memprihatinkan. Apapun yang terjadi di bagian selatan bisa jadi berpengaruh buruk bagi kami," kata Syed Hamid kepada wartawan.
"Saya berharap dengan kunjungan menteri luar negeri Kamis depan, kami bisa melanjutkan diskusi mengenai beberapa masalah khusus, dan bagaimana kami harus mengatasi masalah itu," tambahnya.
"Keprihatinan kami membuat yakin bahwa apapun yang terjadi di wilayah dalam negeri Thailand tidak akan merembes ke dalam Malaysia."
Satu laporan akhir pekan lalu mengatakan, satu kelompok terdiri 24 warga Muslim dari Thailand selatan telah melarikan diri ke wilayah Malaysia, untuk menghindari tuduhan intimidasi yang dilakukan oleh militer Thailand di tengah meningkatnya ketegangan pertikaian antar kelompok.
Namun Syed Hamid membantah laporan tersebut, dan mengatakan bahwa Malaysia tidak melihat adanya gelombang pelarian penduduk Thai.
"Tidak ada laporan baru mengenai orang-orang itu masuk ke negara kami dari Thailand ... Pada saat ini, kami tak bisa mengatakan adanya gelombang pelarian orang-orang itu," kata Syed Hamid.
"Kami telah meningkatkan pasukan keamanan untuk menjaga keamanan perbatasan kami, untuk menjamin bahwa tidak akan ada penerobosan orang-orang asing ke dalam wilayah negara kami," tambahnya.
Satu kelompok terdiri 130 warga Muslim Thailand telah bersembunyi di wilayah Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim, setelah melarikan diri melewati perbatasan pada tahun 2005. Insiden tersebut menyebabkan memburuknya hubungan diplomatik kedua negara, berkaitan dengan nasib mereka.
Thailand dan Malaysia bulan lalu sepakat untuk meningkatkan kerjasama dalam rangka mengakhiri pemberontakan separatis yang telah berlangsung selama tiga tahun, di selatan kerajaan yang sebagian besar penduduknya menganut Budha tersebut.
Selama pemberontakan berlangsung, 2.000 orang dilaporkan tewas. (*/lpk)