< >

Grahawisri Dukung Pembangunan Pelabuhan Kapal Cruise di Bali

Rabu, 21 Maret 2007 19:55
Kapanlagi.com - Sekjen Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia (Grahawisri) Didien Junaedy mengatakan pihaknya mendukung pemerintah yang akan membangun pelabuhan kapal pesiar besar (cruise) di Bali.

"Grahawisri mendukung usaha pemerintah melalui Depbudpar dan PT Pelindo dan pemerintah daerah yang membangun pelabuhan kapal cruise," kata Didien Junaedy di Jakarta, Rabu.

Sebelumnya, Sekjen Depbudpar Sapta Nirwandar mengatakan pemerintah sedang melakukan pembangunan untuk meningkatkan Pelabuhan Padang Bai di Karang Asem dan Pelabuhan Benoa di Bali untuk dapat disinggahi kapal cruise ukuran besar.

Bahkan, Sapta mengatakan pihaknya sedang berusaha agar Pelabuhan Benoa Bali dapat menjadi hub (pusat) atau pelabuhan embarkasi dan debarkasi penumpang kapal cruise internasional.

Didien yang mengaku pernah mengikuti rapat di kantor Depbudpar tentang itu, mengatakan peningkatan pelabuhan yang dilakukan yaitu pembangunan coffee shop, souvenir shop, pelayanan kapal yang modern, dan lainnya agar kapal pesiar dapat merapat.

"Ada persyaratan khusus agar pelabuhan dapat disinggahi kapal pesiar, misalnya keamanan, kenyamanan, transportasi ke luar dan ke dalam pelabuhan serta CIQ (Custom Imigration and Quarantine)," kata Didien.

Dia mengatakan sesuai dengan kondisi perairannya yang dangkal, pelabuhan Benoa akan disinggahi kapal pesiar berukuran lebih kecil dari 200 meter, sedangkan pelabuhan Padang Bai akan disinggahi kapal pesiar yang berukuran lebih besar.

"Sedangkan pelabuhan Padang Bai karena perairannya lebih dalam, akan dapat disinggahi kapal pesiar besar dengan tonase 200 GWT (ton bobot mati)," kata Didien.

Grahawisri mengharapkan setelah pelabuhan Benoa dan pelabuhan Padang Bai, pemerintah melanjutkan pembangunan peningkatan pelabuhan lainnya di Indonesia agar bisa disinggahi kapal pesiar besar.

"Pembangunan berlanjut ke pelabuhan besar lainnya seperti pelabuhan di Ujungpandang, Manado, Semarang (pelabuhan tanjung Emas), Surabaya (pelabuhan Tanjung Perak) dan Tanjung Priok (Jakarta)," kata Didien.

Dia mengatakan pembangunan pelabuhan menjadi pelabuhan kapal pesiar sebagai bagian dari peningkatan fasilitas dan infrastruktur wisata bahari dapat dapat meningkatkan kedatangan (call) kapal-kapal cruise internasional.

"Kendala pengembangan cruise di Indonesia, karena fasilitas dan infrastruktur pelabuhan yang belum memadai, karena kapal cruise tidak bisa digabung dengan kapal penumpang dan kargo. Jadi keamanan dan kenyamanan harus terjamin," katanya.

Dia mengatakan dengan adanya pelabuhan kapal pesiar dapat menarik wisatawan mancanegara sampai 160.000 orang per tahun dari 200 call kapal pesiar internaional.

"Kalau satu tahun bisa 200 call, kali 800 orang jadi ada 160.000 orang. Target harus segitu," kata Didien.

Selain kondisi pelabuhan, kata Sekjen Grahawisri, kendala pengembangan wisata cruise di Indonesia adalah belum adanya kemauan politik pemerintah mengembangkan wisata ini, misalnya dengan belum adanya kemudahan perkreditan dari bank untuk pembelian kapal cruise.

"Permasalahannya pemerintah harus berikan kemudahan perkreditan dari bank yang saat ini belum dilirik. Mungkin masalahnya karena asuransi belum menjamin kapal-kapal pesiar," kata Didien.

Dia mengatakan Indonesia saat ini belum mempunyai satupun kapal cruise dalam negeri, hanya ada kapal pesiar pinisi berpenumpang 12 orang.

"Indonesia seharunya punya itu (kapal cruise besar). Kita harus bangun wisata cruise dalam negari yang sifatnya lebih kecil, misalnya kapasitas 100 orang," kata Didien. (*/rsd)