< >

Malaysia dan Thailand Sepakat Untuk Akhiri Kekerasan di Selatan

Kamis, 22 Maret 2007 22:45
Kapanlagi.com - Malaysia dan Thailand, Kamis (22/03), sepakat untuk menyusun serangkaian tindakan sosial ekonomi untuk mengakhiri ketegangan sekretarian dan aksi kekerasan yang meningkat di wilayah selatan kerajaan itu.

Menlu Malaysia Syed Hamid Albar mengatakan krisis di wilayah Thailand selatan yang berpenduduk mayoritas Islam itu tidak ada sangkutpautnya dengan agama atau Islam.

"Itu tidak ada kaitannya dengan Islam. Warga Muslim dan Buddha hidup di daerah itu secara damai. Itu adalah satu perasaan terasingkan, kekecewaan dan masalah-masalah sosial ekonomi," kata Syed Hamid kepada wartawan.

"Pihak Thailand mengaku fakta bahwa mereka memiliki masalah-masalah... Mereka tahu kegiatan sosial ekonomi merupakan salah satu dari tindakan-tindakan yang akan diambil untuk mengatasi masalah itu," katanya setelah bertemu dengan sejawat Thailandnya Nitya Pibulsonggram.

Syed Hamis mengatakan ia akan menghadiri satu pertemuan gabungan di Thailand dengan badan-badan dari kedua negara April atau Mei untuk membicarakan tindakan-tindakan itu termasuk pelatihan guru dan ketrampilan untuk warga Thailand.

"Kami ingin melihat kemajuan ekonomi. Perhatian mendesak kami adalah bagaimana aksi kekerasan itu dapat dihentikan," katanya.

Warga Muslim Thailand di wilayah selatan kerajaan itu memiliki hubungan kebudayaan yang dekat dengan Malaysia yang berpenduduk mayoritas beragama Islam itu, dan Syed Hamid mengatakan negaranya juga akan membantu Bangkok untuk memahami lebih baik tentang penduduk minoritasnya itu.

Malaysia dan Thailand bulan lalu sepakat untuk meningkatkan kerjasama untuk mengakhiri aksi kekerasan tiga tahun di wilayah Thailand selatan yang menewaskan 2.000 orang itu.

Syed Hamid mengatakan Bangkok "akan melakukan segala hal yang mungkin" untuk mengehentikan aksi kekerasan itu, tapi memperingatkan itu bukan satu penyelesaian yang mudah.

"Saya kira anda tidak bisa mengatasi hal-hal ini dalam semalam," katanya. Ini bukan satu masalah baru. Itu sudah berlangsung lebih dari 100 tahun.

Thailand selatan, yang pernah merupakan kesultanan otonomi Melayu, dilanda aksi separatis sejak Bangkok mencaplok daerah itu seabad lalu.

Nitya yang tiba, Kamis untuk kunjungan dua hari menurut rencana akan bertemu dengan PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, Jumat. (*/lpk)