Ketua Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan (PPBP), Romi Oktabirawa di Pekalongan, Jumat (23/03), mengatakan, salah satu penilaian batik tersebut masuk dalam Guenness World Record, antara lain kain batik yang panjangnya 1.200 meter persegi ini dikerjakan seribu perajin dan dapat diselesaikan dalam waktu satu hari.
"Kami sangat bangga dengan diakuinya kain batik terbesar ini masuk dalam rekor dunia, dan ini membuktikan bahwa Kota Pekalongan merupakan pusat kerajinan batik di Indonesia, bahkan dunia," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya menerima penghargaan sertifikat Guenness World Record ini pada pertengahan Maret 2007. Sementara pemecahan rekor dunia berlangsung dalam acara "Batik On The Road" 16 September 2005. Kegiatan ini sebagai rangkaian Festival Batik Pekalongan 2005 yang mengusung tema "Dari Pekalongan Membatik Dunia".
"Kami sangat bersyukur dan bangga atas prestasi ini dan semoga dunia akan mengingat Pekalongan karena batiknya," katanya yang didampingi Humas Asosiasi Eksportir dan Produsen Hendicraft Indonesia (Asephi) Kota Pekalongan, Djudjur Toto Susilo.
Romi Oktabirawa menjelaskan, penghargaan serupa ini pernah dibukukan oleh salah seorang perajin batik asal Singapura, Sarkasi Said dengan karya membatik sepanjang 100 meter persegi yang dikerjakan selama 91 jam lebih.
"Karya dari warga Singapura ini, akhirnya bisa dikalahkan oleh perajin batik Kota Pekalongan dengan hasil karya yang lebih menakjubkan," ujarnya.
Sementara itu Mohmad Ali Juffri, penanggung jawab Program Batik "On The Road" Pekalongan, mengatakan, pengesahan penghargaan sertifikat rekor dunia ini bukan saja milik para perajin batik yang tergabung dalam PPBP, melainkan juga inisiatif dan kebanggaan dari, oleh, dan untuk seluruh masyarakat Pekalongan.
"Jadi, kebanggaan perolehan penghargaan rekor dunia tidak hanya dimiliki oleh perajin batik saja, tetapi juga untuk masyarakat Pekalongan dan bangsa Indonesia pada umumnya," katanya. (*/rit)