Dirjen Industri Agro dan Kimia (IAK) Benny Wahyudi di Jakarta, Selasa, mengatakan dalam forum kerjasama investasi Indonesia-Jepang dibentuk kelompok kerja yang menyusun proposal strategi industri petrokimia di Indonesia.
"Proposal tersebut sudah diajukan ke pemerintah (Indonesia) yang mengindentifikasi berbagai permasalan dan usulan solusi penyelesaian baik dalam revitalisasi industri petrokimia maupun peningkatan investasi di bidang tersebut," ujarnya.
Deperin, lanjut dia, menyambut positif proposal tersebut karena dari studi awal yang dilakukan swasta Jepang dan pihak Indonesia diketahui sejumlah kelemahan kondisi di dalam negeri yang dinilai harus diperbaiki jika ingin mengembangkan investasi asing di bidang petrokimia di negeri ini, seperti masalah infrastruktur.
"Mereka minta sejumlah perbaikan antara lain infrastruktur dan kemudahan dalam investasi di Indonesia, terutama di bidang petrokimia. Sejauh ini mereka (Jepang) belum menyebut target dan nilai yang akan mereka investasikan di Indonesia," katanya.
Sejumlah persoalan yang mereka soroti dan perlu ditindaklanjuti dalam jangka pendek oleh pemerintah Indonesia adalah konsistensi dan stabilitas pasokan gas alam serta pengaturan harga gas bumi untuk industri.
Selain itu juga stabilitas pasokan listrik dan pembebasan biaya penalti beban puncak, pengembangan infrastruktur di Anyer-Merak-Cilegon dan Bojonegoro, seperti pelabihan dan jalan penghubung dengan kapasitas kendaraan bertonase 20 ton, mengingat Banten ingin dijadikan sentra industri Petrokimia.
Proposal itu juga menilai perlunya dukungan pemerintah dalam investasi di bidang konservasi energi dan diversifikasi peralatan produksi.
Sedangkan dalam jangka menengah sejumlah isu yang dinilai perlu diperbaiki antara lain kemudahan birokrasi dan perijinan dalam pengusahaan bahan baku, pemanfaatan gas ethana hasil sampingan kilang has sebagai bahan baku dan bahan bakar industri, dan pemberian insentif bagi investor baru.
Isu prioritas jangka panjang yang disoroti Jepang dalam proposal tersebut adalah memperkuat daya saing wilayah Anyer-Merak-Cilegon melalui peningkatan sistem transportasi laut dan darat, serta pengembangan industri baru di Gresik-Tuban dengan membangun industri aromatik, dan memperkuat integrasi industri petrokimia dari hulu, menengah, dan hilir. (*/rsd)