"Dari hasil survei tim arkeologi itu secara fisik kapal Onrust memang benar ada, meski hampir semua fisik kapal sudah terendam lumpur," kata Kebudayaan Pariwisata Informasi dan Komunikasi Barut Romansjah Bagan di Muara Teweh, Jumat.
Ditemukannya posisi koordinat secara astronomis bangkai kapal Onrust di sungai Barito itu berdasarkan hasil survey Tim Balai Arkeologi Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada September 2006 berada pada S.00 56` 57.4" dan E.114 52` 32.7" atau sekitar 2,2 kilometer arah hilir atau selatan kota Muara Teweh.
Penelitian situs bangkai kapal Onrust itu dilakukan dengan penyelaman yang dikenal dengan istilah Underwater Archaeology oleh tim arkeologi sebanyak lima orang ini diketuai Drs H Gunadi MHum dengan anggota seorang tenaga ahli arkeologi bawah air Drs Lucas Patanda Kustoro DEA dari Balai Arkeologi Medan, Sumatera Utara.
Selain itu dua orang ahli penyelam dari Balai Pelestarian Peningggalan Purbakala Makasar, Sulawesi Selatan masing-masing Drs Albertinus Kaligis dan Ardiansyah.
Survey arkeologi bawah air di sungai Barito ini, kata Romansjah untuk mencari kedudukan dan lokasi secara pasti serta koordinat dari bangkai kapal Onrust yang tenggelam pada akhir abad XIX pada pertempuran rakyat dipimpin pejuang Barito, Tumenggung Surapati melawan Belanda.
Menurutnya, tenggelamnya kapal yang secara fisik terutama badan kapal yang terbuat dari plat dan baja itu masih cukup baik karena proses korosinya tidak terlalu parah. Hal ini berbeda dengan kapal-kapal besi yang tenggelam diperairan laut mudah mengalami kropos.
Meski ada kerusakan, tambahnya yang terjadi disebabkan hal yang bersifat mekanis seperti terjangan kayu-kayu besar, lumpur pasir dan batuan yang terbawa arus sungai. Apalagi lokasi tenggelamnya kapal yang dengan dengan tikungan sungai memiliki arus deras.
"Jadi secara fisik secara umum dilaporkan tim arkeologi itu masih cukup kuat karena proses korosi tidak terlalu parah, sehingga masih memungkinkan diangkat ke permukaan," katanya didampingi Kabid Kebudayaan, Drs Samsul Bahri.
Dari hasil survey serta menghimpun sejumlah sumber warga setempat, fisik kapal pecah menjadi dua bagian dan pada posisi yang diketahui koordinatnya itu merupakan bagian haluan hingga badan kapal ke belakang sepanjang 18.40 meter.
Sedangkan bagian lainnya sekitar 300 meter arah hilir dari titik kapal yang ditemukan itu.
Sementara Bupati Barut Ir H Achmad Yuliansyah mengatakan pihaknya sejak beberapa tahun lalu sudah mempunyai rencana untuk mengangkat bangkai kapal itu ke daratan guna dijadikan monument cagar budaya.
Monumen yang dilengkapi relief perang Barito dan perang Banjar di wilayah pedalaman Kalteng ini guna diketahui generasi muda tentang nilai-nilai perjuangan dan nilai kesatuan dan persatuan antar etnis yang terbentuk sejak sebelum kemerdekaan.
"Upaya pengangkatan kapal ini hanya bisa dilakukan pada saat sungai Barito surut pada musim kemarau panjang," katanya.
Sementara itu berdasarkan data dari Museum Perkapalan Belanda (Scheepvaart Museum Amsterdam) disebutkan kapal Onrust merupakan kapal uap Belanda yang dibuat pada tanggal 15 September 1845 dengan panjang 24 meter, lebar empat meter dan luas kapal di dalam air 1,15 meter dengan daya mesin uap 70 tenaga kuda (PK).
Kapal bermesin uap dilengkapi persenjataan meriam pelempar peluru seberat 24 pond dan enam senapan mesin yang berputar (gatling gun Amerika) itu dibawa ke Indonesia tahun 1846.
Sebelum ditenggelamkan dalam perang Barito oleh perjuangan rakyat dipimpin Tumenggung Surapati yang merupakan pejuang tangan kanan Pangeran Antasari pada 26 Desember 1859 silam, kapal ini sempat berlabuh di pelabuhan Telawang Banjarmasin pada tahun 1859.
Pada peristiwa berdarah itu menewaskan Letnan Bangaert C bersama 50 serdadu marinir dan 43 anak buah kapal Onrust yang ikut tenggelam setelah salah seorang pejuang membuka keran air diruang palka, hingga kapal Onrust tenggelam. (*/rsd)