< >

Ekspor Produk Kerajinan Diharapkan Tembus 1.000 Juta US$

Selasa, 27 Maret 2007 18:52
Kapanlagi.com - Ekspor produk kerajinan ditargetken mampu meningkat dua kali menjadi sekitar satu miliar dolar AS pada tahun ini dibandingkan pada 2006 yang hanya 500 juta US$.

"Kami menargetkan tahun ini setidaknya produk kerajinan bisa memberi kontribusi ekspor non migas sebesar satu miliar dolar AS," kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft (kerajinan) Indonesia (ASEPHI) Rudy Lengkong, di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, hal itu bisa dicapai dengan dukungan penuh pemerintah dan lembaga perbankan antara lain melalui peningkatan penyaluran kredit modal kerja kepada pengusaha dan perajin dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang berkesinambungan.

Selain itu, tambahnya, tidak kalah penting adalah dukungan promosi dan perluasan pasar baru dari pemerintah, dalam hal ini Departemen Perdagangan untuk meningkatkan ekspor produk kerajinan.

Terkait dengan promosi itu pula, ASEPHI bekerjasama dengan PT Mediatama Binakreasi akan menyelenggarakan Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) ke-9 di Jakarta Convention Center pada 18-22 April 2007.

Rudy Lengkong mengatakan, akses pasar sangat penting bagi pengusaha dan perajin guna meningkatkan produksi dan penjualan mereka terutama di pasar ekspor, di samping pasar dalam negeri.

Oleh karena itu, ia menilai INACRAFT merupakan salah satu sarana bagi pengusaha dan perajin bertemu dengan para calon pembelinya karena pameran tersebut juga akan dihadiri para pembeli asing (buyers) dan misi dagang dari berbagai negara.

"Misi Dagang yang akan datang ke INACRAFT adalah Malaysia dan Jepang, selain itu masih menunggu kepastian misi dagang dari Eropa dan Australia," ujar Rudy.

Ia menargetkan pada pameran kerajinan berskala internasional yang sudah disesuaikan dengan agenda tahunan buyers berkunjung ke pameran-pameran di Asia itu, bisa dikunjungi 1.000 calon pembeli asing dari 85 negara. Saat ini baru terdaftar 173 pembeli asing dari 44 negara. Lebih jauh Rudy mengharapkan peranan pemerintah untuk meningkatkan dukungan pada para perajin ikut dalam pameran berskala internasional seperti INACRAFT.

"Saat baru sekitar 5-10 % perajin yang setiap tahunnya berpartisipasi di pameran ini dari sekitar 6.000-8.000 perajin di Indonesia," katanya.

Untuk mengoptimalkan hasil dari pameran berskala internasional itu, ia juga minta pemerintah menata penyelenggaraan pameran dagang berskala internasional yang dilakukan di dalam negeri agar tidak berlangsung dalam waktu bersamaan.

"Sudah waktunya dipikirkan adanya penataan penyelenggaraan pameran dagang sehingga jangan sampai terjadi dalam waktu yang hampir sama ada lebih dari tiga pameran sejenis yang membingungkan peserta pameran," ujarnya.

INACRAFT sendiri ditargetkan diikuti oleh 1.650 perusahaan yang menempati 1.065 gerai dan sampai saat ini sudah terdaftar sebanyak 1.567 perusahaan, baik swasta, serta BUMN dan dinas di daerah yang membawa para mitra binaannya serta peserta pameran dari negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan India. (*/rsd)