< >

Presiden Nilai Upaya Memperkuat Komitmen Kerjasama Penanganan AI Penting

Rabu, 28 Maret 2007 17:25
Kapanlagi.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai ada keperluan untuk memperkuat kembali komitmen yang telah dibuat guna bekerja sama secara transparan dan niat baik dalam mekanisme pembagian pengetahuan tentang asal muasal, teknologi dan aspek klinis dari flu burung (Avian Flu/AI).

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Presiden saat membuka acara pertemuan tingkat tinggi mengenai praktek pembagian virus flu burung yang menguntungkan di Istana Negara, Rabu pagi.

"Sangat jelas bahwa virus flu burung adalah masalah semua orang. Virus ini sudah dapat ditemukan dari Indonesia hingga Mesir, dari Nigeria hingga Laos, dan dari Vietnam hingga Azerbaijan. Banyak peneliti yang percaya bahwa wabah berikutnya akan muncul dan terjadi tiga kali lebih besar dari abad yang lalu. Ini adalah tugas kita bersama untuk memastikan wabah itu tidak akan terjadi pada masa kita. Tanggung jawab kita bersama untuk mencegah dan melawan wabah ini," kata Presiden.

Dan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk memastikan bahwa seluruh negara di dunia bersiap untuk mencegah dan memerangi virus itu karena jika satu pihak terancam maka seluruh pihak juga terancam, tambah Kepala Negara.

Oleh karena itu, lanjut dia, adalah hal yang membanggakan ketika pertemuan tingkat tinggi se-Asia Pasifik mengenai flu burung dapat diselenggarakan di Indonesia.

?Kebanyakan negara yang terjangkit virus flu burung bekerja sama dengan WHO untuk mengatur strategi nasional dengan mekanisme reaksi yang baru. Dengan pertemuan ini, tujuan kita adalah untuk memberikan perlawanan terbaru terhadap virus flu burung dengan lebih luas, lebih sistematis dengan membantu pendekatan terbaru untuk kampanye gobal dengan semangat baru didasarkan dengan rasa solidaritas," ujarnya.

Menurut Presiden Yudhoyono, ada keperluan untuk menyiapkan pencegahan dan mekanisme untuk mengatasi hal itu, yang menempatkan kesetaraan antar seluruh negara sebagai bagian dari strategi pertahanan.

"Pertemuan ini hendaknya dititikberatkan pada perlunya kesetaraan itu,...,yang menempatkan semua negara dalam suatu pendekatan tentang pembagian sampel dan informasi yang kita sebut sebagai praktek pembagian yang saling menguntungkan," katanya.

Dengan diselenggarakannya pertemuan ini, lanjut Presiden, maka kampanye memerangi flu burung akan memasuki perspektif baru yang didasarkan pada solidaritas yang lebih besar.

"Kami melihat perlunya untuk menindaklanjuti momentum setelah Konferensi Menteri Kesehatan dan Pertanian di Delhi mengenai persiapan pengendalian pandemi flu burung tahun lalu, dan mengambil langkah lebih lanjut," katanya.

Presiden menekankan upaya untuk memenangkan perang kesehatan global tergantung pada upaya memperkuat setiap negara untuk pembangunan kapabilitas kesiapan mengatasi semua infeksi yang mengancam hidup.

"Mendorong penelitian, laboratorium, dan kapabilitas di dalam negeri, serta membantu produksi vaksin dan obat sendiri dengan harga terjangkau dan pembangungan strategi pencegahan dari masing-masing pihak, yang merupakan kunci dari persiapan menghadapi pandemi," katanya.

Hal itu, lanjut Presiden Yudhoyono, boleh jadi memerlukan perubahan mendasar secara pemikiran dan pendekatan, untuk menciptakan kerangka kerja pembagian virus dalam konteks saling menguntungkan.

Pada kesempatan itu Presiden juga mengatakan pandemi akan berdampak besar bagi kehidupan ekonomi dan sosial.

"Perdagangan, transportasi, kepercayaan konsumen, pariwisata, investasi, industri, hingga pertanian akan lumpuh, karena orang-orang terlalu takut untuk bergerak dan berinteraksi," ujar Presiden di hadapan lebih kurang 300 undangan yang hadir.

Dikatakan juga, salah satu penelitian Asian Development Bank memperkirakan dalam satu skenario yang terburuk, wabah itu dapat mengakibatkan resesi, dimana pertumbuhan di Asia dapat benar-benar berhenti dan perdagangan global barang dan jasa menurun 14%, sama dengan US$2,5 juta atau hampir lima kali dari GDP yang dimiliki Indonesia.

Seusai memberikan sambutan, Presiden Yudhoyono membuka secara resmi pertemuan tingkat tinggi itu dengan memukul gong.

Hadir dalam acara itu, antara lain, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, para menteri kesehatan dan perwakilan dari 12 negara berkembang dan negara maju yang terjangkit wabah virus flu burung, negara penghasil vaksin, dan perwakilan WHO. (*/cax)