Namun beberapa peneliti dari Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) kepada wartawan di Stasiun Penelitian dan Pelatihan Konservasi Way Canguk, akhir pekan lalu, mengaku hampir tidak lagi dapat bertemu dan terpergok dengan harimau tersebut.
Diperkirakan pada areal lokasi penelitian konservasi di Way Canguk seluas 800-an hektare (total areal hutan TNBBS 356.800 ha) masih terdapat sekitar dua hingga tiga ekor harimau sumatera yang memiliki wilayah jelajah di sana.
"Beberapa kali kami berhasil menangkap gambarnya melalui penelitian menggunakan camera-trap beberapa tahun lalu," kata Manager Stasiun Riset Way Canguk, Meyner Nusalawo.
Dia memastikan keberadaan harimau sumatera itu akan tetap terlindungi dan terpelihara sepanjang hutan dan pepohonan di sana selalu dijaga dan para pemburu liar tidak dibiarkan berkeliaran.
Selama ini, di kawasan hutan di Lampung yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia itu, keberadaan harimau sumatera dan badak sumatera bercula dua menjadi salah satu indikator kondisi hutan yang masih terlindungi.
Namun belakangan diperkirakan habitat satwa langka dan dilindungi di dunia itu kian menyempit dan terdesak perambahan dan illegal logging.
Populasi harimau di hutan itu diperkirakan hanya tinggal puluhan ekor, begitupula badak sumatera. Tapi populasi gajah sumatera diperkirakan masih cukup besar mencapai 500-600 ekor.
Selain harimau, di sekitar Stasiun Riset Way Canguk juga masih kerapkali dapat ditemukan jejak dan kotoran badak liar (Dicerorhiunus sumatrensis), babi hutan, tapir, dan berbagai jenis satwa liar jenis langka dan dilindungi yang diduga jumlah populasinya masih cukup besar.
"Semua pihak, termasuk masyarakat di sekitar hutan ini harus dapat menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi flora dan fauna di sini agar tetap lestari," kata Meyner Nusalawo pula. (*/cax)