< >

Pengusaha Mebel Jatim Butuhkan Terminal Bahan Baku

Jum'at, 30 Maret 2007 19:02
Kapanlagi.com - Pengusaha mebel di Jatim membutuhkan terminal kayu dan rotan sebagai fasilitas untuk memenuhi bahan baku industri guna mengatasi kelangkaan bahan baku akibat banyaknya kayu yang diekspor ke mancanegara.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jatim, Chilman Suaidi, di Surabaya, Jumat, menyatakan, pada 2004 Kadin Jatim bersama Asmindo telah mengajukan pembangunan terminal ke Pemprop Jatim dan telah dilakukan kajian lokasi serta amdal di Kecamatan Cerme, Gresik.

"Namun hingga kini belum ada kelanjutan," ujarnya seraya menjelaskan bahwa ketersediaan terminal dimaksudkan untuk meningkatkan industri mebel dan kerajinan di Jatim serta untuk mengetahui kejelasan bahan baku saat pengusaha menerima order dari luar negeri.

Selama ini, katanya, salah satu penyebab lesunya industri permebelan sebagai akibat kelangkaan bahan baku serta maraknya kasus pembalakan kayu dan ekspor kayu secara ilegal.

Dengan adanya terminal kayu, diharapkan akan mampu mengurangi kelangkaan kayu, karena bahan baku terpusat di satu tempat.

Mebel dan kerajinan kayu merupakan salah satu produk industri komoditi unggulan Jatim dan Indonesia pada umumnya, karena selain memiliki nilai tambah yang tinggi, juga menyerap tenaga kerja banyak. Dari tingkat hulu sampai hilir, industri ini mampu menyerap 14 juta tenaga kerja.

Hingga kini, nilai ekspor mebel yang tercatat di Asmindo mencapai 1.800 juta US$, sektor kerajinan 400 juta US$, dan domestik 300 juta US$.

Berdasarkan data tahun 2003, nilai ekspor mebel Indonesia mengalami peningkatan 3,70 % dibanding tahun sebelumnya yaitu dari Rp1,47 triliun menjadi Rp1,53 triliun.

Sedang pada 2004, nilai ekspor kembali naik menjadi Rp1,58 triliun atau meningkat 3,47 %. Sebagian besar ekspor mebel Jatim dikirim ke Amerika Serikat dan Jepang.

Tahun 2003 nilai ekspor ke Amerika Serikat mencapai 435,37 juta US$ meningkat menjadi 458,40 juta US$ atau 5,29 % pada tahun 2004. Sampai Oktober 2005 mencapai 439,03 juta US$.

Untuk ekspor mebel ke Jepang pada 2003 mencapai 154,90 juta dolar AS meningkat menjadi 164,98 juta dolar AS atau 5,51 persen pada 2004. Sampai Oktober 2005 mencapai 145,95 juta dolar AS.

Menurut dia, pada 2007, Industri mebel hasil hutan kayu dan rotan di Jatim menyumbangkan 65-70 % dari skala industri nasional, sehingga kinerja perkembangan dan pertumbuhannya akan menjadi tolok ukur bagi industri hasil hutan secara nasional.

Jika terminal kayu dan rotan dapat dibangun di Jatim, maka industri mebel di Jatim juga semakin meningkat, katanya menambahkan. (*/rsd)