
"Kenapa harus di sensor. Padahal film tersebut tidak menjelekkan moral bangsa Indonesia. Malahan, film tersebut sudah diputar di beberapa negara," kata Nico saat ditemui di bunderan HI belum lama ini.
Sementara itu, sang sutradara Riri Riza menyesalkan sifat badan sensor Indonesia dalam hal ini Lembaga Sensor Film (LSF). Menurutnya, penyensoran ini akan menghilangkan esensi dari jalannya cerita film yang kabarnya dibiayai oleh perusahaan di luar negeri.
"Kemungkinan untuk mendapat banyak penonton di sini (Indonesia) agak berat. Jadi, kami berusaha mencari kemungkinan untuk diputar di negara-negara yang punya sikap lebih terbuka," kata Riri.
Namun demikian, meski kecewa, dirinya mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. "Memangnya, apa lagi yang bisa saya perbuat?" ketusnya.
Riri menambahkan, dirinya tidak akan mengedarkan filmnya secara luas di Indonesia. Hanya ada enam layar di tiga kota besar yang akan memutarkan 3 HARI UNTUK SELAMANYA. Yaitu, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
"Saya memang pilih-pilih. Ada kota yang mungkin tidak siap untuk memutar film ini. Nggak mungkin saya putar film ini di mana-mana seperti film SHERINA," katanya. (kl/fia)
Lihat Profil: Nicholas Saputra, Riri Riza