< >

PLTU Mpanau Bantah Beralih ke Solar dari Batubara

Rabu, 04 April 2007 19:51
Kapanlagi.com - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berkekuatan 15 Megawatt (MW) masih tetap menggunakan bahan bakar batubara. "Tidak benar PLTU Mpanau sudah menggunakan bahan bakar solar," kata Wilson, staf Humas PT Palu Jaya Pusaka Power (PJPP) di Palu, Rabu.

Menurut dia, bahan bakar solar hanya digunakan sebatas pemancing menghidupkan mesin genset memanaskan boiler (mesin pemanas).

Sementara bahan bakar utama PLTU tetap masih menggunakan batubara yang didatangkan dari Kalimantan Timur.

Menyinggung mengenai kemampuan PLTU yang merosot, Wilson mengatakan PLTU Mpanau saat ini belum maksimal menghasilkan daya sesuai dengan besaran kapasitas terpasang.

Hingga kini daya yang dihasilkan PLTU satu-satunya di Sulteng itu baru sekitar 10 dari total daya terpasang mencapai 15 Mega Watt (MW).

Belum maksimalnya daya yang dihasilkan PLTU tersebut, menurut Wilson, sangat erat kaitannya dengan kualitas bahan bakar batubara yang digunakan.

Ia enggan menyebutkan, kecuali mengatakan, semakin bagus batubara yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit, akan semakin berpengaruh besar terhadap pembangkit itu sendiri.

Wilson berharap PLTU yang berlokasi di Palu Utara itu bisa beroperasi dengan baik sehingga suplai daya listrik kepada masyarakat dan industri di wilayah Kota Palu tetap berjalan lancar.

"Kita upayakan agar pembangkit tetap beroperasi optimal dan tidak ada gangguan mesin," ujarnya, seraya menambahkan jika terjadi gangguan pada PLTU, dipastikan PLN kembali menerapkan pemadaman bergilir.

Sekalipun PLTU sudah beroperasi, dia mengatakan, PLN belum menjamin bahwa Palu sudah bebas dari krisis daya listrik, sebab PLN setempat tidak memiliki cadangan daya dalam jumlah besar.

Sementaram Asisten Manager Bidang Pembangkitan PT PLN Cabang Palu Ventje Wugouw secara terpisah mengakui pihaknya masih mengalami kekurangan daya listrik.

Sistem kelistrikan di Kota Palu hingga kini masih kekurangan daya listrik, sekalipun satu unit PLTU Mpanau yang berkapasitas 15 MW sudah beroperasi.

Namun, katanya, jika pembangunan satu unit PLTU dengan kemampuan yang sama sudah rampung dan pembangkit yang menggunakan bahan bakar batubara tersebut beroperasi, Palu dipastikan bebas dari krisis listrik.

PLN dalam kondisi keuangan sekarang ini tidak mungkin lagi menanamkan investasinya membeli mesin pembangkit listrik yang baru, kecuali bekerjasama pihak swasta.

"Khususnya sistem kelistrikan Palu sekarang ini semata-mata hanya mengandalkan PLTU untuk tetap memasok daya listrik kepada rumah tangga dan industri," ujarnya.

Mengenai padamnya aliran listrik di beberapa pemukiman penduduk beberapa hari ini, menurut Wugouw, hanya terjadi gangguan sesaat pada jaringan dan gardu listrik.

Biasanya ada jaringan listrik yang putus akibat diterpa pepohonan tumbang dan setelah diperbaiki kembali, aliran listrik akan normal lagi.

Kecuali, jika salah satu mesin PLTD mengalami gangguan atau tiba masa pemeliharaan. PLN terpaksa menerapkan program pemadaman bergilir, sebab daya yang tersedia saat ini, sekalipun sudah ada PLTU, tetap masih belum mencukupi kebutuhan. (*/rsd)