Ayah Ramli, salah seorang pedagang di Banda Aceh Rabu menyebutkan kenaikan harga kopi robusta terjadi akibat pasokan dari sentra produksi berkurang, sementara permintaannya tetap tinggi.
Selama ini, kopi robusta untuk konsumsi masyarakat di kota Banda Aceh dan Aceh Besar dipasok dari dataran tinggi "Tanah Gayo", yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah serta dari Tangse, Kabupaten Pidie.
"Kini pasokannya berkurang karena di luar musim panen," kata Ayah Ramli.
Menurut dia, informasi yang diterima dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, harga kopi biji robusta di kedua sentra produksi kopi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu harganya cukup bervariasi, yakni antara Rp18.000 sampai Rp18.500/kg.
Aceh Tengah dan Bener Meriah, selain menghasilkan kopi robusta kedua daerah itu juga dikenal luas sebagai "lumbung" kopi arabika yang selama ini dipasarkan untuk kebutuhan ekspor ke mancanegara melalui Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Selain kopi robusta, komoditi perkebunan unggulan lainnya, seperi kakao dan cengkeh di pasaran Banda Aceh juga bergerak naik karena pasokannya berkurang dibandingkan harga yang terjadi dua pekan sebelumnya.
Kakao kering kualitas terbaik dari Rp8.000 naik menjadi Rp10.000 per kilogram, sementara cengkeh kering dari Rp28.000 menjadi Rp30.000 per kilogram, namun pedagang di Banda Aceh tidak memiliki stok memadai untuk kedua komoditas tersebut.
"Khusus untuk kopi, musim panen mulai terjadi sejak pekan pertama April 2007, sehingga kenaikan harga yang terjadi selama ini diperkirakan hanya bersifat sementara," tambah Ayah Ramli.
Luas areal kopi rakyat di Aceh Tengah dan Bener Meriah, terutama kopi arabika diperkirakan mencapai 70.000 hektare dengan total produktivitas rata-rata 800 kilogram per hektare, sedangkan kopi robusta hanya sekitar 15.000 hektare.
"Kopi robusta dikembangkan masyarakat untuk kebutuhan lokal, sedangkan kopi arabika mengisi pasaran ekspor ke mancanegara," demikian Ayah Ramli. (*/rsd)