"Perdagangan antara kedua negara tercatat mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang cukup signifikan apalagi setelah adanya kesepakatan para pemimpin negara," kata Kabid Ekonomi KBRI China Andriana Supandy, di Beijing, Kamis.
Dikatakan, target total perdagangan kedua negara pada 2008 mencapai US$20 miliar dan pada 2010 meningkat lagi targetnya menjadi US$30 miliar.
Total perdagangan kedua negara pada 2006, katanya, sudah mencapai US$19,06 miliar. "Dengan nilai perdagangan sebesar itu, maka kami optimis bahwa target tahun 2008 dan target 2010 masing-masing bisa tercapai," katanya.
Ia mengatakan, tingginya total perdagangan itu tidak terlepas dari usaha promosi yang dilakukan Indonesia ke China dalam beberapa tahun ini.
"Kita juga berupaya untuk mencari peluang-peluang dan terobosan ke provinsi di China lainnya yang selama ini belum terlalu kita perhatikan, seperti ke Lioning, Hubei, dan Hunan," katanya.
Dikatakan, selama ini pengusaha Indonesia masih terlalu terkonsentrasi ke pasar tradisional di China seperti ke Hongkong dan Beijing.
"Padahal provinsi lain di China juga sangat membutuhkan produk-produk asal Indonesia," katanya seraya menambahkan bahwa promosi tetap harus dilakukan.
Sejumlah produk Indonesia yang banyak diminati pengusaha China adalah minyak kelapa sawit (CPO), kertas dan pulp, produk kayu, serta minyak dan gas bumi.
Sementara impor Indonesia dari China didominasi produk elektronika, kimia organik dan inorganik, serta tekstil dan produk tekstil.
Andriana mengatakan, pada 2001 total perdagangan kedua negara masih mencatat US$6,7 miliar dan pada 2006 sudah meningkat lebih tiga kali lipat menjadi US$19,06 miliar.
"Artinya potensi masing-masing negara dalam meningkatkan hubungan perdagangan sangat besar dan masih bisa ditingkatkan," katanya.
Untuk meningkatkan promosi kedua negara, tambahnya, kedua negara juga telah membentuk "Working Group on Bilateral Trade Resolution", yaitu sebuah kelompok kerja yang bertugas mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan dan hambatan-hambatan yang dihadapi.
Kelompok kerja tersebut minimal bertemu sekali dalam setahun di negara masing-masing secara bergantian. Namun demikian pertemuan bisa ditingkatkan lebih sering jika memang dianggap penting.
Mengenai hambatan dalam perdagangan kedua negara itu, ia mengatakan, masih ditemui sejumlah hambatan tarif dan non-tarif.
Untuk hambatan non-tarif misalnya, masih saja ada pengusaha Indonesia yang "nakal" dalam ekspor CPO yang ternyata dicampur dengan cairan lain.
Demikian juga dengan spesifikasi produk, pengusaha China sering mengeluh bahwa produk yang diinginkan tidak sesuai dengan pesanannya.
"Pengusaha yang `nakal` seperti itu sebetulnya bukan saja dilakukan dari Indonesia tapi juga ada yang dari China," katanya.
Kedua negara, katanya, juga telah membentuk joint promotion on investment committee yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi, khususnya di sektor investasi. (*/rit)