Kunjungan turis asing ke Bali ada peningkatan di awal 2007, tetapi belum banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan jasa dan harga di sektor pariwisata, komentar Tjok Agung, praktisi Pariwisata Bali di Denpasar, Kamis.
Sesuai catatan Badan Pusat Statistik jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dua bulan pertama 2007 sebanyak 238.777 orang atau mengalami kenaikan 47 persen jika dibandingkan dengan periode sama 2006 hanya 162.438 orang.
Lonjakan jumlah kunjungan turis asing ke pulau Dewata belakangan ini tidak secara otomatis akan meningkatkan pertumbuhan volume jasa pariwisata maupun harga, akibat banyak faktor yang bisa mempengaruhinya.
Ia menyebutkan, hasil survei pedagang eceran dan jasa pariwisata, yang dilakukan BI Denpasar akhir 2006 misalnya, menunjukkan volume jasa pariwisata tumbuh hanya 0,06 persen, dan pertumbuhan harga 0,08 persen, pada hal turis ke Bali semakin banyak.
Untuk jasa rekreasi volumenya tumbuh 0,04 persen, sedangkan Biro Perjalanan Wisata (BPW) volumenya tumbuh 0,08 persen. Komposisi itu berbeda dengan bulan sebelumnya tumbuh 0,02 persen untuk jasa rekreasi dan BPW sama-sama 0,02 persen.
Kecilnya pertumbuhan jasa pariwisata pulau Dewata belakangan ini, baik dilihat dari sisi volume maupun harga, sangat terkait dengan kompleksitas problem sektor pariwisata Bali secara keseluruhan pascabom Bali 2005.
Kepesimisan terhadap volume pertumbuhan sektor pariwisata tersebut, diantaranya karena kunjungan turis asing di Bali sangat singkat. Seperti misalnya penumpang dua kapal pesiar yang merapat selama Pebruari lalu, singgah di pulau Dewata hanya 12 jam.
Kapal pesiar Albatros berbendera Jerman mengangkut sebanyak 1.114 orang dan merapat di Pelabuhan Benoa, pukul 10.00 Wita dan pada pukul 21.00 Wita angkat kaki melanjutkan perjalanannya menuju Dili-Timor Leste dan Darwin Australia.
Kapal pesiar berbendera Belanda yang mengangkut wisatawan dan kru sebanyak 1.800 orang yang merapat di Pelabuhan Padangbai, Bali bagian timur dan mereka setelah berkeliling setengah hari di Bali melanjutkan perjalanan ke Australia.
Pengamat pariwisata lain menyebutkan, rendahnya pertumbuhan harga dari jasa pariwisata di Bali, karena materi yang didapatkan industri pariwisata masih di bawah normal, sebab paket wisata yang ditawarkan masih harga promosi alias di bawah standar.
Kebijakan harga tersebut belum bisa diubah, karena terkait dengan kontrak bisnis pariwisata antara industri pariwisata di Bali dengan mitra kerjanya di berbagai negara, yang umumnya berlaku enam bulan hingga setahun atau kondisi saat itu. (*/rit)